Tradisi Kenduri Suran Tetap Hidup di Masyarakat Bakungan

  • 28 Jun 2026 18:34 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman - Warga masyarakat Bakungan salah satu daerah di Sleman Barat, kembali melaksanakan tradisi Kenduri Suran sebagai warisan budaya yang masih lestari. Kegiatan tersebut berlangsung khidmat dengan diikuti oleh warga lingkungan sekitar sebagai bentuk kebersamaan dan rasa syukur menyambut Tahun Baru Islam.

Tradisi Kenduri Suran dipimpin Bapak Asrori Siswanto yang bertugas sebagai Kaum dalam berbagai kegiatan adat masyarakat setempat. Kehadiran beliau menjadi bagian penting untuk menjaga keberlangsungan adat, budaya, maupun tradisi yang masih dilestarikan warga hingga kini.

Pelaksanaan Kenduri Suran dipusatkan di rumah Mbah Kardi yang dikenal sebagai salah seorang sesepuh masyarakat Bakungan. Rumah tersebut menjadi lokasi berkumpul warga untuk berdoa bersama serta mempererat hubungan sosial masyarakat sekitar.

Kegiatan dilaksanakan pada Rabu, 24 Juni 2026 (9 Sura) tepat pukul 16.00 WIB, sore hari menjelang pergantian hari menurut perhitungan Jawa. Waktu tersebut dipilih sebagai momentum memasuki tanggal 10 Sura yang memiliki makna penting bagi keyakinan warga masyarakat.

Masyarakat mengikuti rangkaian kenduri dengan penuh kekhidmatan sebagai ungkapan syukur atas nikmat kehidupan yang diberikan. Rasa syukur digambarkan dengan berkat atau makanan yang dibawa oleh masing-masing warga dengan wujud makanan hasil bumi maupun lauk pauk yang dimakan setiap harinya.

Selain doa bersama, warga juga mendapatkan penjelasan mengenai latar belakang sejarah pelaksanaan Kenduri Suran tersebut. Penjelasan disampaikan sebelum acara dimulai agar masyarakat memahami makna tradisi yang terus diwariskan secara turun-temurun.

Menurut penuturan Asrori, tradisi tersebut merupakan naluri kebudayaan Jawa yang diajarkan oleh para Wali Sanga. Nilai utama yang terkandung didalamnya adalah mengajak masyarakat senantiasa untuk bersyukur kepada Allah SWT. sepanjang kehidupan berlangsung.

“Tradisi ini merupakan naluri kebudayaan Jawa yang diajarkan Wali Sanga dengan tujuan mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT. Kami melaksanakan Kenduri Suran pada 10 Muharram karena banyak peristiwa para nabi terjadi tanggal tersebut,” ujar Asrori Siswanto sebelum memulai kenduri bersama warga.

Pemilihan tanggal 10 Muharram atau 10 Sura juga berkaitan dengan berbagai peristiwa penting dari para nabi terdahulu. Keyakinan tersebut menjadikan momentum Bulan Sura sebagai waktu tepat memperbanyak doa serta rasa syukur kepada Tuhan. (Gilang Kinantyo Rahmat)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....