Meluruskan Tembung Salah dan Salah Kaprah Kala Berbahasa Jawa

  • 25 Jun 2026 03:06 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pemahaman masyarakat terhadap penggunaan bahasa Jawa yang baik dan benar masih perlu ditingkatkan. Banyaknya kosakata atau istilah yang keliru namun telanjur biasa digunakan sehari-hari atau yang dikenal sebagai tembung salah kaprah.

Menurut yakni Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Sleman, Bapak Drs Agus Istiadi Iswara, MPd dalam Dialog Pendopo Pro4 RRI Yogyakarta menekankan pentingnya membedakan antara kesalahan bahasa yang mutlak atau tembung salah dengan kesalahan yang sudah kaprah atau salah kaprah.

Ia menjelaskan tembung salah merupakan kesalahan fatal yang harus segera diluruskan karena melanggar unggah-ungguh atau struktur bahasa. Sedangkan tembung salah kaprah merupakan kesalahan yang secara tata bahasa atau logika sebenarnya keliru, namun karena sudah biasa digunakan sehari-hari, masyarakat menganggapnya sebagai hal yang benar atau kaprah.

“Kesalahan ini umumnya tidak berdampak fatal, tetapi tetap perlu diluruskan dari sisi keilmuan,” katanya.

Agus yang juga berprofesi sebagai MC Jawa menyontohkan istilah nyuwun tapak asta untuk meminta tanda tangan. Secara harfiah, tapak asta berarti cap jempol. Kata ini biasa digunakan oleh orang zaman dahulu yang tapak asma belum bisa menulis. Padahal menurutnya yang benar untuk tanda tangan adalah.

Sementara itu, menurut Abdul Afif Rosyidi, SPd, MPd, guru bahasa Jawa di SMAN 1 Sleman tembung salah kaprah dalam sastra Jawa juga kerap disebut sebagai rurabahasa yakni bahasa yang rusak namun sudah telanjur biasa atau lumrah.

Ia memberikan beberapa contoh konkret salah kaprah yang sangat sering dijumpai di masyarakat, seperti negor klapa, menebang kelapa padahal yang ditebang adalah pohonnya bukan buah kelapanya.

“Meluruskan tembung salah kaprah yang sudah mengakar di masyarakat memang bukan perkara mudah. Namun, melalui dunia pendidikan, para guru berkomitmen untuk terus mengedukasi generasi muda. Mengingat status Yogyakarta sebagai daerah istimewa yang menjunjung tinggi kebudayaan, pelestarian bahasa Jawa yang benar, baik dari segi makna maupun unggah-ungguh, harus terus diupayakan agar tidak kehilangan esensi nilai luhurnya,” ujarnya.

Afif yang berkecimpung di dunia pendidikan, mengakui bahwa tantangan terbesar saat ini berada di lingkungan sekolah. Terlebih lagi, saat ini hampir 90 persen guru bahasa Jawa merupakan generasi muda yang dalam kesehariannya juga masih sering menggunakan bahasa yang bercampur.

Menurutnya untuk meluruskan kesalahan-kesalahan berbahasa ini, diperlukan strategi dan waktu yang tepat agar para murid maupun masyarakat tidak merasa dihakimi secara mendadak saat berbicara. Pembenahan tatanan bahasa yang benar dirasa tepat untuk diterapkan pada acara-acara resmi atau formal. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang tepat, dengan memanfaatkan momentum yang sesuai, agar proses pembenahan bahasa ini dapat diterima dengan baik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....