Tren Berkebaya Dinilai Perkuat Identitas Anak Muda

  • 23 Mei 2026 12:59 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta--Pendidikan karakter berbasis budaya lokal dinilai penting untuk menjaga identitas generasi muda di tengah derasnya arus globalisasi. Konsep “Slay tapi Njawani” menjadi gambaran bagaimana anak muda tetap bisa tampil modern, percaya diri, dan ekspresif tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur budaya Jawa.

Hal tersebut disampaikan Kandidat Doktor Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Basilica Dyah Putrantri, MA dalam dialog Kawruh Pro 4 RRI Yogyakarta Jumat 22 Mei 2026 bertema Manifesto Pendidikan Karakter Berbasis Lokal di Hari Kebangkitan Nasional. Menurutnya, istilah “slay” yang populer di kalangan Generasi Z bukan sekadar soal penampilan keren, tetapi juga keberanian menunjukkan kualitas dan jati diri.

“Slay itu bukan cuma keren secara penampilan, tapi juga bagaimana anak muda percaya diri, berani menunjukkan kualitas dirinya, dan mampu mengekspresikan diri,” ujar Lika sapaan akrabnya.

Namun, menurutnya, konsep tersebut harus dipadukan dengan nilai “njawani” yang menekankan etika, empati dan kemampuan menempatkan diri atau empan papan. Ia menilai pendidikan karakter menjadi pekerjaan rumah bersama, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

Nah ini PR kita bersama. Anak-anak sekarang hidup di tengah budaya global, tapi mereka tetap orang Indonesia dan orang Jawa. Jadi budaya luar harus dimaknai dan disintesiskan dengan nilai lokal,” kata dia.

Lika menambahkan bahwa bahasa memiliki peran penting dalam membentuk karakter karena bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan nilai budaya. Karena itu, penggunaan bahasa dan pembiasaan nilai budaya Jawa perlu ditanamkan sejak dini melalui keteladanan, bukan dengan menyalahkan generasi muda saat mereka masih belajar.

Ia juga menilai tren berkebaya, memakai kain, dan batik modern di kalangan anak muda merupakan langkah positif untuk mendekatkan budaya Jawa kepada generasi sekarang. Namun, menurutnya, gerakan tersebut harus disertai pemahaman makna dan filosofi agar tidak berhenti pada aspek penampilan semata.

“Kalau memakai kebaya atau kain, jangan hanya tampilannya saja yang dilihat. Anak-anak juga perlu tahu makna dan nilai di baliknya supaya karakternya ikut terbentuk,” uca Lika.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....