Tribuana Manggala Bhakti Waisak Rawat Alam Menoreh
- 15 Mei 2026 18:36 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Kulon Progo - Semangat pelestarian lingkungan mewarnai rangkaian peringatan Waisak 2026 di Daerah Istimewa Yogyakarta melalui kegiatan Tribuana Manggala Bhakti yang digelar di kawasan ekowisata Sungai Mudal, Kalurahan Jatimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Kamis 14 Mei 2026. Kegiatan berbasis ekoteologi dan budaya lokal tersebut menjadi bagian dari rangkaian Vesakha Sananda 2026.
Acara yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB hingga 13.00 WIB itu melibatkan umat Buddha, pemerintah, komunitas lintas organisasi keagamaan, mahasiswa Institut Nalanda Jakarta, hingga masyarakat sekitar. Seluruh peserta bersama-sama melakukan aksi nyata pelestarian lingkungan di kawasan pegunungan Menoreh.

Ketua Panitia Tribuana Manggala Bhakti, Surahman, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda rutin berbasis ekoteologi kultural masyarakat Menoreh yang telah berlangsung sejak 2014. Menurutnya, konsep Tribuana mengandung makna tiga unsur kehidupan yang harus dijaga bersama. “Tribuana itu tiga matra kehidupan yang kita rawat, yakni bumi, air, dan udara. Karena itu simbol kegiatannya ada penanaman pohon untuk bumi, pelepasan ikan endemik untuk air, dan pelepasan burung untuk udara,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penanaman pohon secara simbolis di lokasi acara hanya menjadi awal dari gerakan penghijauan yang lebih luas. Bibit pohon nantinya akan dibagikan kepada umat untuk ditanam di berbagai wilayah dengan dukungan sejumlah dinas terkait. “Kami seperti membuat pesta pohon. Jadi umat nanti akan membawa pulang bibit untuk ditanam bersama, bekerja sama dengan Dinas Kehutanan, Lingkungan Hidup, hingga Perikanan dan Kelautan,” katanya.
Selain penanaman pohon, kegiatan juga diisi dengan pelepasan ikan nilam endemik Sungai Mudal dan pelepasan burung lokal sebagai bentuk komitmen menjaga keseimbangan ekosistem. Pelepasan satwa dilakukan bersama unsur pemerintah, tokoh agama, dan umat Buddha di area wisata alam tersebut.
Pembimbing Masyarakat Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Pandu Dinata, S.Kom., M.Pd., menilai Tribuana Manggala Bhakti menjadi implementasi konkret program Asta Protas yang menekankan pendekatan ekoteologi dalam kehidupan beragama. Menurutnya, agama harus mampu memberi manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat. “Ini adalah bagaimana umat beragama dapat memberikan dampak nyata bagi lingkungan. Beragama itu bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi bagaimana kehadiran agama memberi manfaat bagi kelestarian alam dan masyarakat,” ucapnya.

Pandu juga menyampaikan permohonan maaf apabila dukungan dari Bimas Buddha DIY belum maksimal akibat efisiensi anggaran. Meski demikian, ia mengapresiasi semangat gotong royong panitia, relawan, umat, dan para donatur yang tetap menjaga keberlangsungan kegiatan tersebut. “Pelaksanaan tahun ini murni gotong royong dan dana mandiri. Kami mengapresiasi para panitia, umat, relawan, dan para donatur yang tetap menjaga tradisi baik ini agar terus lestari,” katanya.
Rangkaian Tribuana Manggala Bhakti turut dikemas melalui pendekatan seni dan budaya lokal. Acara diawali dengan puja bakti, pembacaan Dhammapada dan Vanaropa Sutta, doa lintas umat, pertunjukan tari tradisional, pembacaan geguritan, hingga penampilan vokal dari pelajar dan mahasiswa. Bagi masyarakat Buddha Menoreh, kegiatan tersebut menjadi simbol harmonisasi antara manusia, budaya, dan alam yang terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....