BEM FBSB UNY Gelar Sarasehan Budaya Kupas Esensi Wastra Batik

  • 14 Mei 2026 20:30 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menyelenggarakan Sarasehan Budaya pada Rabu, 13 Mei 2026. Kegiatan ini berlangsung di ruang LMT 206 Lantai 2, Gedung Kuliah Kusbini, kampus FBSB UNY.

Acara tahun ini mengusung tema “Menelusuri Jejak Canting dan Jiwa Batik dalam Wastra Budaya di Tengah Arus Digitalisasi.” Forum tersebut diadakan untuk menciptakan ruang bersama bagi civitas akademika dalam bertukar pemikiran mengenai dinamika kebudayaan kontemporer.

Sarasehan ini menyoroti esensi batik sebagai wujud ekspresi nilai, karakter, dan jati diri bangsa Indonesia. Setiap motif kain tradisional yang diwariskan turun-temurun menyimpan simbol kehidupan dan harapan luhur bagi pemakainya.

Perkembangan teknologi membawa tantangan baru melalui kehadiran batik industri atau printing serta maraknya tindakan plagiarisme motif oleh pihak asing. Hal tersebut dinilai mengancam keberadaan batik tulis autentik yang memiliki nilai filosofis tinggi karena diproduksi secara manual menggunakan canting.

Tantangan pelestarian juga mencakup alat produksi tradisional, di mana hingga saat ini belum ditemukan desain canting yang benar-benar ideal bagi pembatik. Penggunaan canting manual sering kali memiliki risiko malam cair tumpah hingga berpotensi melukai kulit perajin.

Meski menghadapi tantangan, digitalisasi sekaligus membuka peluang besar bagi komoditas batik untuk memperluas jangkauan pasar di kancah global. Data menunjukkan nilai ekspor industri batik nasional telah mencapai Rp7,4 triliun ke lebih dari 200 negara dan menyerap 3,8 juta tenaga kerja.

Pemanfaatan platform digital serta teknologi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) seperti dokumentasi berbasis NFT dapat digunakan untuk mencegah klaim sepihak. Selain itu, ekosistem kreatif dapat dikembangkan melalui optimalisasi konten digital guna menarik minat generasi Z dan generasi Alpha.

Apresiasi terhadap kain nusantara dapat dilakukan oleh anak muda secara bertahap melalui perpaduan busana modern seperti mengombinasikan batik dengan jeans. Langkah ini dipandang sebagai pintu masuk yang baik sebelum mengarahkan masyarakat pada penggunaan kain tradisional yang lebih autentik.

Dalam sesi tanya jawab, dibahas pula mengenai dampak keterlibatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terhadap orisinalitas motif yang diproduksi massal. Penggunaan teknologi baru tersebut ditegaskan tidak boleh menggeser peran utama manusia dalam proses penciptaan.

“AI bisa digunakan sebagai alat bantu, bukan pengganti agar nilai budaya tidak hilang,” ujar Rayhan Alfiano Sukaca Putra selaku narasumber yang juga Top 5 Finalis Duta Budaya DIY 2026.

Melalui sarasehan ini, civitas akademika diharapkan dapat menumbuhkan rasa bangga dan berperan aktif dalam mempromosikan warisan lokal. Sinergi seluruh pihak menjadi kunci utama agar batik tetap hidup sebagai identitas bangsa yang membanggakan di era modern.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....