Aksi Nyata Duta Bahasa DIY Rangkul Gen Z Rawat Bahasa

  • 14 Mei 2026 15:16 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Mencegah lunturnya bahasa ibu dan kebanggaan berbahasa Indonesia pada generasi muda tidak boleh dianggap remeh. Sering kali, masyarakat baru terjebak pada keprihatinan saat bahasa daerah mulai ditinggalkan oleh anak-anaknya, tanpa menyadari bahwa pergeseran identitas yang paling krusial justru sudah terjadi sejak masifnya gempuran media sosial.

Menjawab tantangan tersebut, Duta Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta 2026 terus menggencarkan edukasi literasi dan pelestarian budaya agar kesadaran masyarakat benar-benar terbangun dan sesuai dengan prinsip Trigatra Bangun Bahasa yang presisi.

Dalam bincang-bincang hangat di program Kawruh di RRI Pro 4 Yogyakarta Rabu 13 Mei 2026, pemenang Duta Bahasa DIY 2026, Gayuh Ardyan Fajri dan Krisna Puspita, mengungkapkan, pemahaman tentang literasi kebahasaan ini bertujuan untuk memberikan penguatan karakter yang sesuai dengan dinamika pergaulan dan gaya hidup sasaran.

"Penggunaan bahasa ini sangat berkaitan erat dengan kebiasaan dan sangat mudah terpengaruh lewat gawai saat Gen Z berselancar di media sosial. Namun, anak muda kita memiliki potensi yang adaptif. Jika mereka dilibatkan langsung dalam pelestarian dan sosialisasi ke teman sebaya, mereka akan bangga. Sehingga saat berinteraksi, mereka tahu kapan harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai situasi," ujar Gayuh

Melengkapi penjelasan tersebut, Krisna memaparkan bahwa efektivitas pelestarian akan sangat bergantung pada seberapa kreatif pendekatan edukasi yang diberikan kepada para pelajar. Untuk penanaman bahasa daerah, metode pendekatannya harus khas dan ditandai dengan inovasi yang menyenangkan.

"Uniknya dari program edukasi ini, kami mengemasnya agar tidak kaku dan membosankan. Lewat krida 'Wastra', kami mengajak anak SD dan SMP belajar bahasa daerah secara kreatif melalui buku kecil. Buku ini berisi permainan seru, seperti bingo, teka-teki, hingga kamus kecil yang mudah dipahami," kata Krisna

Lebih lanjut, edukasi mengenai pentingnya bahasa ini juga menjadi bekal krusial bagi masyarakat untuk melindungi identitas kelokalan yang makin rentan, seperti pudarnya penggunaan bahasa Jawa di kalangan remaja, warga asli, maupun pendatang. Perlindungan budaya ini menjadi vital mengingat gempuran bahasa gaul dan asing bisa mengikis jati diri daerah sebelum masyarakat menyadari hilangnya kekayaan tutur kata tersebut di ruang publik.

Dalam sesi pemaparan, isu mengenai cara agar bahasa daerah tidak ditinggalkan pemuda sempat mengemuka. Gayuh menyarankan masyarakat untuk melestarikan bahasa lewat media edukatif yang disukai anak muda, serta membiasakan penggunaan lagu, Macapat, atau konten kreatif digital. Selain itu, langkah paling fundamental adalah menciptakan lingkungan baru yang mendukung, seperti kemauan pendatang untuk membaur dan belajar bahasa Jawa agar gerakan pelestarian ini berjalan selaras di tengah keberagaman Jogja.

Sejak dinobatkan, Duta Bahasa DIY 2026 secara konsisten berkomitmen mengedukasi masyarakat terkait pentingnya menjaga muruah dan identitas bangsa. Melalui penerapan program kerja yang terukur dan pemahaman literasi digital yang baik, Duta Bahasa berharap ekosistem pelestarian budaya dapat terus bertumbuh dan memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan generasi muda yang bangga berbahasa bagi masa depan nusantara. (Galih)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....