Mengupas Filosofi ‘Sapa Nandur Ngunduh’ di Siaran Pendapa

  • 13 Mei 2026 09:25 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Program Siaran Pendapa edisi Kamis (7/5) kembali menghadirkan kedalaman filosofi Jawa bersama budayawan terkemuka, Dr. Pardi Suratno. Kali ini, bahasan berfokus pada salah satu paribasan atau peribahasa Jawa yang paling populer dan universal: "Sapa Nandur, Ngunduh".

Hukum Alam yang Tak Pernah Tertukar menurut Dr. Pardi Suratno bahwa ungkapan ini memiliki makna harfiah "siapa yang menanam, dialah yang memetik". Secara filosofis, ini adalah sebuah pengingat keras sekaligus lembut tentang hukum sebab-akibat. Seseorang yang menanam kebaikan dipastikan akan memanen buah manis di kemudian hari, sementara mereka yang menanam keburukan harus siap menerima balasan yang serupa.

"Alam memiliki caranya sendiri. Tidak mungkin tertukar; orang yang berbuat baik mendapatkan keburukan, atau sebaliknya. Semua kembali pada apa yang kita tabur di dunia ini," ujar Pardi.

Senjata bagi mereka yang benar menariknya, Dr. Pardi menyoroti bahwa kalimat Sapa Nandur Ngunduh sering kali muncul sebagai kalimat pemutus dalam sebuah perselisihan. Ketika diskusi menemui jalan buntu, pihak yang merasa berada di jalur kebenaran biasanya akan mengucapkan kalimat ini sebagai bentuk kepasrahan kepada kuasa Tuhan.

Menurut beliau, ungkapan ini memiliki "getaran" kejujuran. Sangat jarang, bahkan mustahil, diucapkan oleh mereka yang sedang melakukan kesalahan.

"Orang yang salah cenderung takut mengucapkan kalimat ini, karena ada kekhawatiran akan karma atau balasan buruk yang segera menimpa dirinya. Maka, peribahasa ini sejatinya adalah identitas bagi mereka yang berupaya menjaga perilaku baik," ujarnya.

Selaras dengan "Gusti Ora Sare" Filosofi ini memiliki kaitan erat dengan ungkapan Jawa lainnya seperti Becik Ketitik Ala Ketara (yang baik akan tampak, yang buruk akan kelihatan) serta Ngunduh Wohing Panggawe. Semua bermuara pada keyakinan bahwa Gusti Ora Sare (Tuhan Tidak Tidur).

Pesan untuk Kehidupan Melalui materi ini, Siaran Pendapa mengajak pendengar untuk lebih mawas diri (self-reflection). Di tengah dinamika sosial yang makin kompleks, memegang teguh prinsip Sapa Nandur Ngunduh menjadi kompas moral agar kita selalu konsisten berbuat baik dalam setiap sendi kehidupan. Sebab, apa yang kita berikan pada dunia hari ini, adalah apa yang akan kita terima esok hari.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....