Upaya Seniman Yogyakarta Hidupkan Memori Kolektif Lewat Kampung Budaya

  • 07 Mei 2026 22:37 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Membangkitkan kembali memori kolektif masyarakat tentang jati diri dan sejarah lingkungannya merupakan sebuah langkah fundamental di tengah arus modernisasi. Seni dan budaya bukan sekadar produk estetika usang atau pajangan masa lalu, melainkan ruh penggerak yang mampu menyeimbangkan rasionalitas pikiran dengan kehalusan budi pekerti dalam kehidupan sosial masyarakat. Penyadaran akan ruang hidup dan filosofi masa lalu kini harus dipandang sebagai fondasi penting guna membangun karakter peradaban yang kokoh.

Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam program dialog budaya "Kawruh" yang disiarkan langsung oleh RRI Pro4 Yogyakarta, Kamis, 7 Mei 2026, dengan menghadirkan narasumber Heri Susilo, selaku pelukis sekaligus pengamat sejarah dan budaya Yogyakarta, serta Joko Mursabo, S.Sn.atau akrab dengan sapaan Joko Timun, selaku seniman dan budayawan Yogyakarta. Dalam perbincangannya, kedua tokoh ini mengupas tuntas esensi dari dedikasi seniman dalam menghidupkan kembali lingkungan menjadi kampung budaya yang berdenyut aktif, salah satunya melalui inisiasi Kampung Budaya Turgo Ngepring, Candi Candra Geni Sri Sedana.

Transformasi sebuah wilayah sejatinya bukanlah proses "menyulap" dalam semalam. Heri Susilo memaparkan bahwa langkah tersebut merupakan upaya menggali ingatan kolektif yang lama tertidur. Setiap nama tempat atau toponimi, seperti Purwobinangun maupun Wirobrajan, menyimpan makna historis dan doa (Asmo Kinaryo Jopo) yang seharusnya diinternalisasi kembali sebagai spirit masyarakat setempat. Di sinilah seni hadir untuk memantik "kegelisahan positif", menggugah kesadaran komunal agar masyarakat kembali mempertanyakan eksistensi serta arah tujuan hidupnya.

Namun, realitas sosial saat ini menunjukkan benturan yang nyata antara pelestarian tradisi dan persepsi modernitas. Dialog tersebut menyoroti keresahan publik mengenai masyarakat masa kini yang sering kali lebih mudah terhipnotis oleh gemerlap peradaban asing, sementara warisan adiluhung peninggalan leluhur justru dilabeli "jadul" atau tertinggal. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengikis tata krama, etika, serta kebijaksanaan lokal, apabila masyarakat melupakan akar budayanya dan menyerahkan pelestarian seni tradisional justru kepada bangsa luar.

Guna membentengi identitas tersebut, pelestarian budaya tidak boleh disalahartikan sebatas mempertahankan wujud fisik di masa lampau, melainkan merawat nilai-nilai luhurnya agar senantiasa relevan. Prinsip seperti Memayu Hayuning Bawono (memperindah keindahan dunia) atau nilai kepemimpinan dinamis yang tersirat dalam ombak motif batik Parang, harus mampu diadaptasi dan dihidupkan dalam keseharian. Dibutuhkan sinergi pemikiran dan kepekaan batin untuk memvisualisasikan kembali kearifan tersebut ke dalam ruang-ruang hidup yang nyata.

Terkait dengan adaptasi budaya di era kekinian, Heri Susilo menekankan pentingnya menjaga esensi nilai di tengah perubahan ruang dan waktu. "Makna budaya sendiri itu sebenarnya berjalan terus. Seringkali kita terjebak pada sekadar pelestarian fisik. Padahal yang menarik adalah nilainya, seperti Memayu Hayuning Bawono, itu tetap. Dalam konteks kekinian, casing-nya bisa berbeda, ekspresinya bisa berbeda menurut semangat zaman, sama seperti cara kita berkomunikasi yang berkembang dari telegram hingga smartphone tanpa mengubah esensi komunikasinya," ujarnya.

Lebih lanjut, Joko Mursabo menyoroti peran penting seni dalam menjaga keseimbangan sisi kemanusiaan yang mulai tergerus logika pragmatis. "Ada dua kerajaan dalam diri manusia, yaitu Nar (akal/pikiran) dan Nur (hati/rasa). Seni atau budaya inilah yang menyeimbangkan kehidupan. Ketika akal mulai 'mengakali', hati hadir memberi kehati-hatian, sehingga muncul rasa iba, sayang, dan naluri melindungi. Inilah yang kita sinkronisasikan dan wujudkan aplikasinya di Kampung Budaya Turgo Ngepring," katanya.

Sebagai penutup, perbincangan ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali merefleksikan jati dirinya sebagai entitas yang beradab. Merawat identitas kelokalan bukanlah langkah mundur melawan zaman, melainkan upaya esensial merawat kemanusiaan itu sendiri. Keterlibatan aktif dalam menghidupkan kampung-kampung budaya di Yogyakarta adalah tanggung jawab kolektif untuk memastikan bahwa ruang-ruang kehidupan kita tetap memiliki "rasa" dan keseimbangan di tengah arus modernisasi. (auliya)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....