Rayakan Usia 13 Tahun, Sanggar Langit Alang-alang Gelar Pementasan Kolosal

  • 27 Apr 2026 16:02 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Kulon Progo - Sanggar Langit Alang-Alang (SLAA) di Kalurahan Giripeni, Wates, Kulon Progo, baru saja merayakan ulang tahun ke-13 melalui pementasan kolosal bertajuk "Gema Langit Alang-Alang". Perayaan ini mengusung filosofi "Ngonceki" yang bermakna mengupas lapisan demi lapisan sebagai metafora bagi perjalanan tiga belas tahun sanggar dalam mencari kebenaran dan keindahan seni.

Umur tiga belas tahun merepresentasikan fase transisi menuju kedewasaan, dimana sanggar berupaya mengupas aspek superfisial untuk menemukan kembali hakikat eksistensinya sebagai jembatan masa lalu dan masa kini. Semangat ini juga berkelindan dengan momentum Hari Kartini dan Hari Tari Dunia untuk mengupas belenggu keterbatasan demi mencapai emansipasi jiwa serta ekspresi raga yang murni.

Pementasan yang digelar Sabtu, 25 April 2026 ini menjadi sebuah karya kolaborasi interdisipliner yang menyatukan gerak tari, teater, pakem pedhalangan, lagu dolanan hingga musik kontemporer dan seni rupa dalam kelarasan harmoni. Pagelaran ini juga menjadi ruang transmisi budaya inklusif yang melibatkan 250 peserta dari berbagai lintas generasi.

"Sanggar Langit Alang-Alang menegaskan jati dirinya bukan hanya sebagai tempat berlatih (tari), melainkan sebuah ekosistem dinamis yang menjaga nyala api tradisi agar tetap relevan dan tak padam ditelan zaman," ujar Rika Wijayaningrum, S.H, Pimpinan Produksi.

Naskah "Gema Langit Alang-alang" disusun oleh Chahyo Edi Pramono, S.Pd untuk mendokumentasikan memori kolektif sekaligus memposisikan sanggar sebagai "rahim peradaban" bagi identitas bangsa. Metafora "alang-alang" digunakan sebagai pernyataan sikap bahwa komunitas ini adalah komunitas mandiri, tahan banting terhadap segala keterbatasan serta memiliki akar nilai-nilai tradisi.

Lebih jauh, naskah ini disusun untuk menjawab tantangan degradasi nilai di era digital. Dengan mengintegrasikan narasi pedalangan Jawa Krama Inggil, tembang Macapat, dan berbagai tari Nusantara dalam satu panggung, penulis bertujuan untuk memberikan "pengalaman total" kepada penonton.

Naskah ini bukan sekadar pementasan, melainkan sebuah proklamasi kemerdekaan pikiran. Tokoh Kartini di sini tidak ditampilkan sebagai sosok pasif di balik jeruji, melainkan sebagai sosok yang jiwanya terus hidup dan berevolusi melalui tarian. Pertentangan antara karakter Perempuan dan para "Buto" (raksasa) dibuat dengan detail untuk merepresentasikan perjuangan nyata sanggar dalam melawan stigma bahwa seni tradisional itu ketinggalan zaman, serta melawan upaya pembungkaman terhadap suara-suara perempuan yang ingin berekspresi.

"Naskah ini dibuat sebagai sebuah warisan spiritual, sebuah surat cinta dari sanggar kepada semesta, yang menegaskan bahwa selama ada lentera yang menyala di tangan anak-anak, selama itu pula tradisi dan kemerdekaan jiwa akan tetap lestari," ujar Rika.

Kemeriahan pementasan yang digelar di Taman Budaya Kulon Progo (TBK) ini menjadi sebuah capaian multidimensi di mana keberhasilannya menjadi legitimasi atas resiliensi Sanggar Langit Alang-alang yang telah kokoh mengakar selama 13 tahun.

Pementasan ini juga menjadi laboratorium karakter bagi anak didik dimana mereka tidak sekadar menguasai teknik gerak, namun juga menyerap filosofi ketangguhan alang-alang dan semangat emansipasi Kartini. Sehingga tumbuh menjadi generasi yang percaya diri dan memiliki kedaulatan identitas yang kuat di tengah gempuran budaya global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....