Medsos Berlebih Ternyata Memicu Turunnya Literasi Remaja
- 24 Apr 2026 19:47 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Studi dari University of Georgia menunjukkan bahwa semakin lama remaja menghabiskan waktu di media sosial, kemampuan literasi membaca dan penguasaan kosakata mereka cenderung menurun, yang pada akhirnya dapat berdampak pada prestasi akademik.
Sejalan dengan temuan tersebut, pemerintah Indonesia resmi menerapkan pembatasan akses media sosial dan gim daring bagi anak di bawah usia 16 tahun sejak 28 Maret 2026 melalui kebijakan PP Tunas. Pembatasan ini mencakup sejumlah platform populer seperti YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, Bigo Live, serta Roblox.
Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia UGM, Sailal Arimi, menilai kebijakan ini relevan dan strategis untuk diterapkan saat ini. Menurutnya, anak-anak pada usia tersebut belum memiliki kemampuan optimal dalam menyaring informasi maupun menentukan mana yang baik dan tidak bagi mereka.
“Jadi dengan dibatasinya akses tersebut akan sangat membantu dalam pemilihan kontennya terutama pada usia rentan remaja dan kanak-kanak,” ucap Sailal, Selasa, 14 April 2026.
Ia mengakui bahwa di era digital saat ini, penggunaan gawai sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Penggunaan tersebut dapat memberikan dampak positif jika dimanfaatkan untuk belajar, mengembangkan keterampilan, memperluas wawasan, serta membangun relasi yang sehat.
Namun, dampak negatif juga tidak bisa diabaikan, terutama jika gawai digunakan secara berlebihan untuk bermain gim atau mengonsumsi konten media sosial yang kurang mendidik. Hal ini berpotensi memengaruhi perilaku, seperti munculnya kecenderungan antisosial, perundungan, hingga paparan konten kekerasan dan kriminalitas.
“Yang menjadi persoalan sekarang kita harus fokus melihat gawai itu dari sisi keberadaan fungsinya. Jadi bagaimana usia pra-16 tahun itu bisa menggunakan gawai secara positif untuk belajar, meningkatkan keterampilan atau jejaring sosial yang sehat,” katanya.
Lebih lanjut, Sailal menilai pembatasan akses menjadi langkah yang paling realistis saat ini, disertai dengan pengembangan teknologi yang mampu mengelompokkan pengguna berdasarkan usia.
“Teknologi interaktif ini harus bisa dibuat atau diarahkan lebih tepat guna dan tepat sistemnya, agar penggunaan gawai betul-betul sudah berdasarkan usia,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....