Wayang Kontemporer Hidupkan Tradisi lewat Limbah dan Imajinasi
- 21 Apr 2026 07:45 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Seni wayang tradisional sering kali dipandang sebagai kesenian yang rumit, kaku, dan eksklusif oleh sebagian generasi muda karena pakemnya yang ketat serta materialnya yang sulit dijangkau. Namun, Galeri Kahangnan hadir untuk mematahkan pandangan tersebut melalui inisiatif lokakarya Wayang Kontemporer yang membebaskan imajinasi pesertanya dengan memanfaatkan bahan-bahan sederhana di sekitar kita.
Penggagas Wayang Kontemporer, Hangno Hartono, mengungkapkan bahwa tujuan utama dari lokakarya ini adalah untuk memperkenalkan kembali esensi wayang kepada masyarakat luas, khususnya anak-anak dan generasi muda. Baginya, pelestarian budaya tidak selalu harus kaku pada bentuk aslinya, melainkan bagaimana menjaga agar nilai filosofisnya tetap hidup.
"Ini sebetulnya posisi antara masyarakat untuk mencintai wayang secara klasik. Tujuan kita adalah menanamkan memori tentang wayang supaya wayang tradisional itu tidak hilang di dalam arus kemodernan ini, walaupun bentuknya dimodifikasi," ujar Hangno.
Untuk memastikan setiap kalangan dapat menciptakan karya seni ini tanpa hambatan biaya atau keterampilan teknis yang tinggi, kegiatan ini memanfaatkan medium yang sangat akrab dengan lingkungan keseharian. Peserta diajak berkreasi menggunakan limbah karton, plastik, hingga material dari alam seperti rumput, akar, dan tangkai daun singkong.
Proses pembuatannya pun didesain sangat praktis. Jika pembuatan wayang kulit klasik membutuhkan minimal 20 jenis alat tatah, wayang kontemporer ini cukup menggunakan tiga hingga empat alat sederhana seperti gunting, cutter, atau solder untuk medium plastik.
Kebebasan berekspresi menjadi nilai tawar utama dalam pembuatan wayang kontemporer ini. Peserta dibebaskan dari ketakutan membuat bentuk yang salah atau tidak proporsional. Justru, bentuk figur yang naif dan tak wajar dinilai memiliki nilai seni tersendiri. Tema yang diangkat dalam narasi wayang pun sangat fleksibel dan relevan dengan isu masa kini, mulai dari isu kerusakan lingkungan, hak anak, politik, hingga karakter imajinatif seperti alien dan hewan fabel.
"Ketika isu-isu seperti kekerasan atau kerusakan alam disampaikan secara verbal, kadang-kadang sulit dipahami. Tapi ketika dinarasikan dengan wayang, ada unsur humor, mitologi, dan kritik sosialnya, itu akan lebih mengena," katanya.
Pendekatan naratif yang cair ini juga dinilai efektif oleh tim pengelola untuk menyuarakan tema-tema inklusi sosial bagi teman-teman difabel. Lebih dari sekadar pelestarian seni, gerakan ini juga menjadi salah satu langkah taktis dalam dunia pendidikan untuk melepaskan anak-anak dari jerat gawai. Melalui aktivitas memotong, menggambar, dan merakit wayang, motorik dan imajinasi anak-anak kembali dirangsang untuk aktif bergerak.
Ke depannya, Galeri Kahangnan yang berlokasi di Guwosari, Pajangan, Bantul ini berharap wayang tidak hanya berakhir sebagai pajangan panggung, melainkan menjadi rutinitas kreatif yang bisa dimainkan siapa saja dan di mana saja. Dengan semangat kebebasan berkarya, mereka menargetkan agar kata dan memori tentang 'wayang' beserta nilai kedalamannya tidak pernah terhapus dari ingatan masyarakat Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....