Generasi Muda Yogyakarta Hidupkan Kembali Seni Dagelan lewat “2 Derajad Celsius”

  • 09 Apr 2026 10:04 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Seni tradisi kerap dianggap kuno dan kurang diminati oleh generasi muda. Namun, anggapan tersebut mulai terbantahkan dengan munculnya anak-anak muda yang justru aktif melestarikan dan mengembangkan kesenian tradisional, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Salah satu contohnya adalah grup dagelan “2 Derajad Celsius” yang digawangi oleh Fajar Chotiet dan Ciblek Vertigo. Duo komedian ini semakin dikenal luas, tidak hanya di kalangan masyarakat lokal, tetapi juga hingga luar daerah.

Ciblek Vertigo mengungkapkan bahwa terbentuknya grup ini berawal dari keresahan akan minimnya regenerasi pelaku seni dagelan. Ia dan Fajar Chotiet merasa memiliki kecocokan hingga akhirnya memutuskan untuk berkarya bersama.

“Berangkat dari keresahan tentang regenerasi dagelan, kami kebetulan bertemu dan merasa klik. Akhirnya mencoba hadir di tengah masyarakat dengan kemampuan yang kami miliki,” ujar Ciblek.

Keduanya juga memiliki latar belakang keluarga yang dekat dengan dunia seni tradisi. Fajar Chotiet merupakan putra dari Puthut, seniman dagelan Kethoprak RRI Yogyakarta, sementara Ciblek memiliki paman, Sugeng Surono, yang juga dikenal sebagai pelawak di RRI Yogyakarta.

Nama “2 Derajad Celsius” sendiri dipilih bukan tanpa makna. Selain terdengar unik dan kekinian, nama tersebut menyimpan filosofi tersendiri.

“Kalau lawakan kami tidak bisa membuat penonton tertawa, rasanya badan jadi dingin, bahkan bisa sampai dua derajat Celsius,” kata Ciblek sambil tersenyum.

Kemampuan mereka di atas panggung pun bukan sekadar klaim. Setiap penampilan mereka selalu mendapat respons positif, baik dari penonton umum maupun para seniman dan senior di bidangnya. Selain tampil di panggung, mereka juga kerap hadir di layar kaca dalam berbagai program komedi.

Sementara itu, Fajar Chotiet menambahkan bahwa dalam setiap pementasan, mereka selalu melakukan persiapan matang dan terus belajar dari para senior.

“Kami selalu berkoordinasi sebelum tampil, belajar tentang cara menyampaikan materi dan melemparkan joke. Para senior juga sangat mendukung kami,” ujarnya saat ditemui di sela latihan persiapan pentas di TMII, Jakarta.

Ia juga menekankan pentingnya adaptasi di era media sosial yang menuntut kreativitas lebih tinggi. Meski kerap terjadi perbedaan pendapat dalam proses kreatif, keduanya berkomitmen untuk menjaga komunikasi secara langsung.

“Kalau ada masalah, kami tidak menyelesaikannya lewat ponsel. Kami memilih bertemu langsung agar tidak berlarut-larut,” ucapnya.

Melalui “2 Derajad Celsius”, mereka berharap dapat terus diterima masyarakat sekaligus berkontribusi dalam pelestarian dan pengembangan seni tradisi, khususnya di bidang komedi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....