Menempa Karakter melalui Filosofi Joged Mataram dalam Tari Gagrag Ngayogyakarta

  • 07 Apr 2026 09:07 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kondisi karakter generasi muda saat ini dinilai memerlukan fondasi etika yang kuat, di mana penguasaan fisik harus sejalan dengan ketenangan batin. Dalam diskusi mendalam di program siaran "Kawruh" RRI Pro 4 Yogyakarta, Senin, 6 April 2026, Dr. Titik Putraningsih, M.Sn., akademisi dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sekaligus anggota APEBSKID (Afiliasi Pengajar, Peneliti Budaya, Bahasa, Sastra, Komunikasi, Seni, dan Desain) Yogyakarta, mengungkapkan bahwa Tari Gagrag Ngayogyakarta merupakan instrumen pendidikan karakter yang melampaui sekadar gerak estetis. Ia menilai setiap elemen teknis dalam tari gaya Yogyakarta, mulai dari arah pandangan mata hingga posisi jari kaki, adalah instrumen nyata untuk melatih pengendalian diri di tengah gempuran budaya instan.

Dalam perspektifnya, setiap detail teknis merupakan manifestasi dari tanggung jawab moral seorang penari. Ia menyoroti sikap ndhegeg (tegak) sebagai ciri utama yang membedakannya dengan gaya daerah lain, di mana ketegasan fisik tersebut menuntut keselarasan total antara kontrol otot dan ketenangan pikiran.

"Tari Gagrag Ngayogyakarta itu memiliki teknik yang sangat khusus; pandangan mata harus tajam dan lurus ke depan, sikap badan harus ndhegeg atau tegak dengan tulang belakang lurus namun tetap dilakukan dengan santai. Ada juga teknik pacak gulu yang spesifik, posisi mlumahing pupu saat merendah, hingga jari kaki yang harus nyekentheng untuk memperkokoh pijakan. Ini semua bukan sekadar gerak artifisial, melainkan latihan kedisiplinan, kesabaran, dan pengendalian diri yang luar biasa," ujarnya.

Lebih lanjut, ditegaskan bahwa tari ini berakar kuat pada filosofi Joged Mataram, sebuah konsep luhur yang dirancang sebagai pedoman hidup nyata agar masyarakat memiliki tanggung jawab sosial serta keteguhan hati dalam menghadapi berbagai godaan zaman yang serba cepat.

"Filosofi Joged Mataram itu terdiri dari empat pilar utama, Sawiji atau konsentrasi total, Greget yang berarti semangat jiwa yang terkendali, Sengguh yakni percaya diri tanpa kesombongan, dan Ora Mingkuh yang bermakna pantang menyerah terhadap rintangan. Nilai-nilai inilah yang menjadi media kreatif untuk menghantarkan umat kembali pada maksud tujuan hidup yang sebenarnya, bukan sekadar mengejar hiburan materi semata," kata Dr. Titik.

Melalui pemahaman filosofi yang mendalam tersebut, seni tari klasik diharapkan tidak hanya berhenti sebagai tontonan panggung, melainkan bertransformasi menjadi identitas yang mampu membentengi masyarakat dari perilaku dangkal. Keberlanjutan regenerasi melalui sanggar-sanggar tari menjadi bukti bahwa seni adiluhung ini tetap menjadi instrumen vital dalam membentuk manusia masa depan yang memiliki akar budaya kokoh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....