Tari Gagrag Ngayogyakarta, Merawat Pakem dan Karakter di Era Modern

  • 07 Apr 2026 08:57 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Seni tari klasik gaya Yogyakarta atau yang dikenal dengan Tari Gagrag Ngayogyakarta dinilai bukan sekadar rangkaian gerak estetis, melainkan sebuah media persemaian nilai karakter yang mampu membentuk kepribadian pelakunya secara utuh. Dalam diskusi mendalam di program siaran "Kawruh" RRI Pro 4 Yogyakarta, Senin, 6 April 2026, Dr. Titik Putraningsih, M.Sn. dari APEBSKID (Afiliasi Pengajar, Peneliti Budaya, Bahasa, Sastra, Komunikasi, Seni, dan Desain) Yogyakarta sekaligus akademisi dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), mengungkapkan pentingnya menjaga pakem dan filosofi di tengah gempuran budaya modern yang semakin dinamis.

Dr. Titik mengungkapkan bahwa setiap elemen dalam Tari Gagrag Ngayogyakarta memiliki aturan teknis yang sangat ketat, mulai dari arah pandangan mata hingga sikap tubuh yang sarat akan makna simbolis. Ia menyoroti sikap ndhegeg (tegak) sebagai ciri utama yang membedakannya dengan gaya daerah lain seperti Surakarta yang cenderung mayok (condong ke depan). Ketegasan fisik dalam gaya Yogyakarta ini menuntut keselarasan total antara kontrol otot dan ketenangan batin.

"Tari Gagrag Ngayogyakarta itu memiliki teknik yang sangat khusus, pandangan mata harus tajam dan lurus ke depan, sikap badan harus ndhegeg atau tegak dengan tulang belakang lurus dan tetap dilakukan dengan santai. Ada juga teknik pacak gulu yang spesifik, posisi mlumahing pupu saat merendah, hingga jari kaki yang harus nyekentheng untuk memperkokoh pijakan. Ini semua bukan sekadar gerak artifisial, melainkan latihan kedisiplinan, kesabaran, dan pengendalian diri yang luar biasa," ujarnya.

Lebih jauh, Dr. Titik menjelaskan bahwa tari ini berakar kuat pada filosofi Joged Mataram, sebuah konsep luhur yang terdiri dari empat pilar utama: Sawiji (konsentrasi total), Greget (semangat jiwa yang terkendali), Sengguh (percaya diri tanpa kesombongan), dan Ora Mingkuh (pantang menyerah terhadap rintangan). Kinting Handoko, M.Sn., yang juga dari APEBSKID dan merupakan Kandidat Doktor Sastra, dan Budaya Daerah di Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), menyoroti aspek kesederhanaan yang elegan dalam tata busana dan rias gaya Yogyakarta. Ia menilai bahwa kekuatan Tari Gagrag Ngayogyakarta justru terletak pada kedalaman penjiwaan karakter dibandingkan kemewahan atribut luar yang berlebihan.

"Busana tari Yogyakarta itu cenderung sederhana, tidak mengandalkan payet yang gemerlap, namun tetap terlihat sangat elegan dan berwibawa. Kekuatannya ada pada bagaimana penari mampu menghidupkan karakter yang dibawakan. Bahkan untuk rias, kita tidak menggunakan kumis tempelan, melainkan digambar langsung untuk menyesuaikan karakter spesifik seperti Kambeng, Kinantang, atau Bapang. Hal ini dilakukan agar audiens tidak hanya melihat penampilan fisik, tetapi juga merasakan kehadiran ruh tokoh tersebut melalui setiap gerak dan ekspresi yang ditampilkan," kata Kinting.

Ia juga menambahkan bahwa detail busana seperti penggunaan kain dodot ageng yang mencapai lima meter merupakan bentuk penghormatan terhadap pakem tradisi. Meskipun dalam perkembangannya muncul dodot alit yang lebih praktis untuk keperluan akademis, standar kualitas dan kontrol estetika tetap menjadi prioritas utama agar keagungan tarian tetap terjaga meski dipentaskan di luar lingkungan keraton.

Sebagai respons atas tantangan budaya global, kedua narasumber menekankan pentingnya pendidikan tari klasik sebagai fondasi karakter bagi generasi muda. Mereka optimis melihat antusiasme remaja Yogyakarta yang tetap konsisten belajar di sanggar-sanggar tradisional seperti di kawasan Pujokusuman dan lingkungan Keraton. Dengan durasi latihan yang disiplin serta pemahaman filosofi yang mendalam, seni ini diharapkan menjadi identitas kuat yang mampu membentengi masyarakat dari perilaku yang dangkal, sekuler, dan kapitalis. Keberlanjutan regenerasi ini menjadi bukti nyata bahwa seni adiluhung bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan instrumen vital untuk membentuk manusia masa depan yang tetap memiliki etika dan akar budaya yang kokoh.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....