Jejak Rempah dan Memori Keluarga Teuku Shabir dalam Bungong Lawang Ngon Keluarga

  • 07 Apr 2026 05:59 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Seniman lukis Teuku Shabir menghadirkan kisah lain dari cengkeh dalam Pameran tunggal Bungong Lawang Ngon Keluarga yang berlangsung mulai 3 - 16 April di Bolo Space Yogyakarta. Melalui karya visual, seniman asal Aceh ini menghadirkan cengkeh bukan hanya sekadar komoditas yang menjadi bagian kekayaan jejak rempah Nusantara, tetapi juga menjadikannya pintu masuk menelusuri memori keluarga, dan identitas budaya.

Dalam Program Sore Ceria Pro2 Jogja, Kamis, 2 April 2026 Shabir membuka cerita tentang makna bungong lawang, dalam bahasa Aceh berarti cengkeh, yang menjadi inspirasi pameran. Cengkeh dipilih bukan sekadar objek, tetapi simbol perjalanan keluarga dan sejarah panjang Indonesia.

Ia menjelaskan proses kreatif dimulai sejak 2023 dengan eksplorasi visual sederhana. Perjalanan itu berlanjut hingga menemukan kedalaman tema keluarga pada 2025.

"Awalnya saya tertarik dengan rempah secara umum, karena kekayaan alam Indonesia luar biasa. Dari situ berkembang ke cerita keluarga saya yang belum tergali secara utuh," ujar Shabir.

Selain latar belakang keluarga yang pernah menjadi pengusaha cengkeh, pengalaman budaya Aceh turut memengaruhi karya Shabir yang tertuang dalam Bungong Lawang Ngon Keluarga. Salah satunya adalah tradisi kenduri di Aceh yang berlangsung sepanjang tahun.

"Aceh itu hampir gak pernah putus dengan kenduri gitu, dari Januari sampai Desember. Turun ke sawah aja kendurian, dan itu bukan hanya soal makanan, tapi rasa kebersamaan," katanya, menuturkan.

Sementara, kurator pameran, Anang Saptoto, mengungkapkan cerita di balik proses kreatif menyusun pameran Bungong Lawang Ngon Keluarga. Ia menekankan pentingnya memahami seniman sebelum menyusun pameran, termasuk proses kurasi yang ia lakukan bersama Syabir sejak tahap awal pencarian ide.

“Yang pertama dipahami adalah senimannya dulu, supaya pikiran, ucapan, dan tindakan satu garis. Dari situ baru karya bisa dibaca secara utuh,"ujar Anang.

Anang juga mendorong eksplorasi mendalam melalui cerita keluarga yang dikumpulkan secara bertahap. Memori keluarga Shabir yang bersifat acak kemudian disusun menjadi narasi visual yang terstruktur.

“Memori itu acak, jadi perlu disusun agar publik bisa mengikuti alurnya. Di situ lah kurator berperan mendampingi proses berpikir seniman," katanya menjelaskan.

Selain karya lukis, dalam pameran tunggal Bungong Lawang Ngon Keluarga, pengunjung juga berpeluang menyaksikan elemen performatif dan aktivitas publik. Salah satunya mencoba melukis di canvas putih dengan menggunakan cengkeh yang telah ditumbuk.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....