Catur Sajuga Hadirkan Tembang Macapat Ramadan, Sentuh Hati lewat Pesan Moral dan Bu
- 25 Mar 2026 08:05 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Tradisi berkarya di bulan suci Ramadan kembali dilakukan oleh komunitas seni Catur Sajuga. Kelompok yang beranggotakan Dalijo Angkring, Angger Sukisno, Budi Sutowiyoso, dan Sugiman Dwi Nurseto ini menghadirkan dua karya klip tembang Macapat yang sarat pesan moral.
Pada Ramadan dan Idul Fitri tahun ini, Catur Sajuga merilis dua karya berjudul “Pocung Palaran Siyam Ramadan” dan “Sinom Palaran Werdine Kupat Bada”. Selain sebagai bentuk silaturahmi kepada para senior, karya ini juga menjadi upaya pelestarian budaya tradisional Jawa, khususnya tembang Macapat.
Angger Sukisno, yang juga dikenal sebagai panatacara dan seniman ketoprak RRI Yogyakarta, menjelaskan bahwa pemilihan tembang Macapat bukan tanpa alasan.
“Kami berangkat dari seni tradisi, sekaligus ingin mengenalkan tembang Macapat kepada generasi muda. Syair atau cakepan kami sesuaikan dengan tema Ramadan dan Idul Fitri,” ujarnya.
Adaptasi ke Media Sosial
Untuk menjangkau audiens yang lebih luas, terutama anak muda, Catur Sajuga memanfaatkan platform digital seperti YouTube, TikTok, dan Facebook.
Budi Sutowiyoso menambahkan bahwa kemasan karya sengaja dibuat sederhana namun menarik agar mudah dinikmati.
“Kami menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Tidak perlu rumit, yang penting tepat sasaran. Kami juga berbagi tugas, mulai dari penulisan syair, konsep, hingga teknis produksi,” ucapnya.
Strategi tersebut terbukti efektif. Dalam waktu singkat setelah dirilis, video mereka mampu meraih puluhan hingga ratusan ribu penonton, disertai berbagai respons positif dari masyarakat.
Mengangkat Nilai Ramadan dan Filosofi Kupat
Dalam karya “Pocung Palaran Siyam Ramadan”, Catur Sajuga mengangkat nilai-nilai puasa yang relevan dalam kehidupan bermasyarakat. Sementara itu, “Sinom Palaran Werdine Kupat Bada” membahas filosofi makanan khas Idul Fitri, yaitu kupat atau ketupat.
Melalui karya tersebut, mereka menyampaikan makna simbolis:
Lebar (selesai)
Lebur (menghancurkan dosa)
Labur (menjadi putih/suci)
Luber (melimpah kebaikan)
Pesan utamanya adalah mengajak masyarakat untuk saling memaafkan, kembali suci, dan mempererat kasih sayang setelah Ramadan.
Dalijo Angkring, yang dikenal dengan gaya humornya, menegaskan pendekatan mereka kepada generasi muda.
“Kami ingin mengenalkan budaya tanpa menggurui. Motto kami: ‘Njiwit nanging ora nglarani’ — mencubit tanpa menyakiti,” katanya.
Komitmen Melestarikan Budaya
Sugiman Dwi Nurseto menutup dengan menegaskan komitmen kelompoknya untuk terus berkarya dan menyebarkan kecintaan terhadap budaya tradisional.
“Kami ingin menularkan ‘virus’ cinta budaya kepada generasi muda. Perbedaan pendapat pasti ada, tapi kami selalu menyatukannya dalam karya,” ucapnya.
Catur Sajuga berharap karya mereka dapat terus memberikan manfaat sekaligus menjadi jembatan antara tradisi dan generasi masa kini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....