Tradisi Wiwit, Syukur Petani dan Inovasi Tanam Padi di Galon Bekas
- 24 Mar 2026 12:06 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Modernisasi pertanian dan menyempitnya lahan sering kali membuat tradisi-tradisi agraris warisan leluhur perlahan ditinggalkan oleh masyarakat. Namun, pemandangan berbeda dan penuh makna terlihat di Kecamatan Sedayu, Kabupaten Sleman, di mana tradisi Wiwit masih terus dilestarikan secara khidmat. Uniknya, ritual rasa syukur ini berdampingan dengan inovasi pertanian ekstrem yang adaptif terhadap keterbatasan lahan perkotaan.
Dalam prosesi panen raya yang digelar di kawasan Gorbacep (Goreng Bakar Spesialis Ikan Laut) di Jl. Mahakam, Sumber, Balecatur, Sedayu, nuansa sakral dan kebersamaan warga sangat terasa. Acara ini dipimpin langsung oleh Rohmat selaku Kaum di Dusun Sengonkarang. Dalam tradisi masyarakat Jawa, Kaum (sering juga disebut sebagai Rois atau Modin) adalah sosok tokoh agama atau sesepuh di tingkat lingkungan dusun yang memiliki peran sentral dalam memimpin berbagai ritual adat dan keagamaan.
Rohmat menjelaskan bahwa Wiwit merupakan wujud rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa atas melimpahnya hasil bumi yang telah diberikan. Ritual ini juga dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada alam semesta, yang dalam budaya Jawa lekat dengan simbol kesuburan, yakni Mbok Sri atau Dewi Sri.
"Tradisi Wiwit ini disimbolkan dengan ubo rampe atau sesaji. Kalau di sini yang disiapkan ada Sego Wiwit, lauknya sambal gepeng dari kacang, gereh atau ikan asin, lalu ada ayam, dan tentunya kembang setaman," ujar Rohmat sambil merinci kelengkapan acara yang melambangkan kekayaan hasil bumi.
Visualisasi dari ubo rampe tersebut tampak bersahaja namun sarat makna, disajikan di atas tampah tradisional berisi porsi Sego Wiwit yang dikelilingi aneka lauk-pauk, buah pisang, dan kembang setaman, jajanan pasar menciptakan suasana ritual yang khusyuk. Lebih lanjut, sesepuh dusun ini mengungkapkan bahwa pembakaran kemenyan atau dupa dalam ritual tidak hanya bertujuan untuk mengharumkan suasana doa, tetapi juga disimbolkan untuk menyingkirkan energi buruk.
Energi buruk ini merepresentasikan hama pengganggu tanaman (omo), dengan doa dan harapan agar panen pada musim tanam berikutnya bisa lebih melimpah. Rohmat menegaskan, meskipun terkadang hasil panen kurang maksimal, syukuran tetap harus dilakukan untuk merawat nilai-nilai budaya dan spiritualitas petani Jawa.
Menariknya, syukuran panen raya yang melestarikan tradisi ini tidak dilakukan di hamparan sawah berlumpur yang luas. Laksda TNI (Purn.) B. Ken Tri Basuki, yang menginisiasi dan mengelola kawasan tersebut, menuturkan bahwa lokasi panen ini adalah lahan percontohan yang sangat sempit.
Lahan tersebut dibangun secara ekstrem di atas kolam ikan memanfaatkan tanah kas pemerintah untuk sarana edukasi warga. Pertanian ini menyulap limbah dengan menggunakan 2.000 galon air mineral bekas sebagai media tanam, di mana setiap galon ditanami tiga bibit padi.
"Keuntungan sistem ini sangat banyak. Petani tidak perlu pusing memikirkan lahan yang luas atau memikirkan traktor. Hebatnya lagi, selama tiga bulan masa tanam, metode ini terbukti aman dari serangan hama tikus karena tikus enggan naik ke permukaan galon," ujar Laksda TNI (Purn.) B. Ken Tri Basuki.
Padi yang dipanen dan diupacarakan dalam tradisi Wiwit ini adalah varietas hasil percobaan bernama JUL 14 (Jenis Uji Lapangan 14). Padi organik ini mulai ditanam pada 14 Desember dan sukses dipanen tepat pada usia 99 hari. Fasilitas "Rumah Petani" ini juga menyediakan delapan rumah peraga yang memperlihatkan proses detail penanaman, agar masyarakat luas bisa belajar bertani maksimal di lahan sempit.
Keberhasilan panen ini tentunya tidak terlepas dari dedikasi dan tangan dingin Setro. Ia adalah sosok di lapangan yang terjun langsung menanam dan merawat ribuan galon padi tersebut dari awal mula disiapkan hingga masa panen tiba. Mas Setro memaparkan bahwa inovasi pertanian galon ini murni mengandalkan ketekunan dan 100 persen bahan organik. Media tanam yang digunakan merupakan campuran tanah, kotoran hewan ternak (sapi atau kambing), dan arang sekam yang didiamkan atau difermentasi selama kurang lebih dua minggu sebelum ia tanami bibit.
Proses pemupukan yang dirawat oleh Setro sepenuhnya organik tanpa sentuhan kimiawi, dengan mendapat bimbingan langsung dari Prof. Abdul Salam Hari dari "Bengkel Bumi". "Untuk pengairan juga sangat efisien, air disiramkan seminggu sekali dengan mengambil air langsung dari kolam ikan di bawah rak tanaman. Kami menjaga agar air menggenang sekitar dua ruas jari atau lima sampai tujuh sentimeter, Menjelang masa panen, air kemudian dikurangi agar tanah mengering." kata Setro.
Kombinasi harmonis antara kepemimpinan tokoh adat dalam melestarikan tradisi Wiwit dan kerja keras para pegiat pertanian dalam menerapkan teknologi lahan sempit ini membuktikan bahwa budaya dan kemajuan zaman dapat berjalan beriringan. Diharapkan, gerakan dari Dusun Sumber Gamol ini mampu memotivasi masyarakat luas untuk menjaga ketahanan pangan tanpa harus meninggalkan akar budaya Nusantara
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....