Bersamaan Idulfitri Versi Muhammadiyah, Garebeg Syawal Digelar Jumat

  • 19 Mar 2026 22:34 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Pihak Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat siap menggelar Garebeg Syawal 1447 H pada Jumat, 20 Maret 2026 pagi. Pengamanan jalannya garebeg pun sudah dirapatkan oleh Polresta Yogyakarta bersama dengan pemangku kepentingan terkait.

“Ada gunungan dan uba rampe yang akan dikirim dari keraton ke Masjid Gedhe Kauman sebelum nanti dibagi-bagi. Kami sudah siap melakukan pengamanan untuk garebeg besok,” kata Kabag Ops Polda DIY Kompol Sumanto, Kamis, 19 Maret sore, ketika jumpa pers di Mapolresta Yogyakarta.

Ada sejumlah rute yang akan diamankan oleh jajaran Polresta Yogyakarta. Setidaknya ada empat rute yang mendapat pengawasan aparat. Masyarakat yang akan memperebutkan gunungan diminta untuk tertib selama proses garebeg berlangsung.

“Mulai dari rute Keraton – Masjid Gedhe Kauman menuju Alun-alun Utara. Kemudian, Masjid Gedhe Kauman – Trikora – Senopati – Sultan Agung – Pura Pakualaman. Selanjutnya, Masjid Gedhe Kauman – Pangurakan – Jalan Ahmad Yani – Kepatihan,” ujarnya.

Gunungan yang telah didoakan dan diberkati di Masjid Gedhe Kauman kemudian diperebutkan oleh masyarakat. (Foto: RRI/Rosihan Anwar)

Terpisah, Panghageng II Kawedanan Reksa Suyasa, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Kusumonegoro, mengatakan Garebeg Syawal tahun ini digelar bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri versi Muhammadiyah. Meski demikian, hal itu bukan didasarkan dari metode hisab atau rukyatul hilal, melainkan berdasarkan perhitungan keraton lewat kalender Islam Jawa yang telah digunakan selama lebih dari 1 abad.

"Keraton memiliki perhitungan sendiri. Perhitungan itu namanya khurup, yang berlaku selama 120 tahun," ujar Kusumonegoro.

Dalam perhitungan khurup tersebut, KRT Kusumonegoro menjelaskan perhitungan bulan puasa atau Pasa hitungannya genap selama 30 hari. Hal ini berbeda dengan perhitungan kalender nasional.

"Karena keraton memang memiliki perhitungan tersendiri, dan sekadar informasi saja untuk wulan pasa hitungannya pasti 30 hari. Itulah kenapa jumlah hari dalam satu tahun nasional berbeda dengan Jawa," kata dia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....