Viral! Sering Disangka Anak Didi Kempot, Ilham Konsisten nguri-uri Lagu Jawa

  • 13 Mar 2026 12:23 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Di tengah gempuran tren musik modern dan dominasi budaya populer mancanegara, bahasa daerah sering kali dipandang sebelah mata oleh sebagian generasi muda. Namun, di sebuah desa di wilayah Ampel, Boyolali, seorang pemuda bernama Ilham Putra Sanjaya justru memilih jalan sebaliknya. Ia mendedikasikan dirinya sebagai penjaga nyawa musik campursari, sebuah pilihan yang kini membawanya dikenal luas melalui jalur karya mandiri.

Saat ditemui di kantor RRI Yogyakarta Kamis 12 Maret 2026 baru-baru ini, Ilham mengisahkan bahwa perjalanan panjangnya dalam menjaga eksistensi lagu Jawa dimulai dari keterbatasan. Memiliki karakter vokal yang sangat mirip dengan mendiang maestro Didi Kempot, Ilham kerap kali terjebak dalam stigma publik yang menyangka dirinya adalah putra kandung Sang Maestro. Namun, dengan rendah hati ia menegaskan bahwa kemiripan tersebut merupakan buah dari kekaguman mendalam dan proses belajar otodidak yang ia rintis sejak duduk di bangku sekolah.

“Semuanya didasari dari hobi dan bakat yang saya asah sendiri secara otodidak sejak kelas 1 SMP. Dulu saya berpikir, mencari guru vokal di kampung dekat gunung itu sangat sulit dan jarang, tidak seramai di kota. Akhirnya saya olah sendiri bakat saya, ikut lomba antar kelas di sekolah, dan dari situ saya mulai mendapatkan juara,” ujar Ilham mengenang masa awalnya.

Ketertarikannya pada musik Jawa semakin mengakar berkat pengaruh besar karya-karya almarhum Didi Kempot. Lagu legendaris berjudul "Cidro" menjadi pemantik utama bagi Ilham untuk mulai menulis lirik berdasarkan pengalaman pribadinya sejak tahun 2019. Ketulusan dalam berkarya itulah yang membawanya terus produktif hingga saat ini, di mana ia telah melahirkan sekitar 45 karya lagu orisinal bergenre Campursari-Dangdut.

Perjalanan kreatif Ilham pun ditempuh dengan langkah profesional yang cukup serius. Ia mengawali proses rekaman pertamanya di Mekar Asri Studio, Sragen—sebuah studio bersejarah tempat lahirnya lagu "Lali Janjine". Tak berhenti di situ, ia juga memperluas kolaborasinya dengan merilis karya di studio milik mantan gitaris grup Lare Jawi di Solo. Langkah ini ia ambil untuk memastikan bahwa nuansa musik Jawa yang ia ciptakan tetap otentik, namun memiliki sentuhan modern agar dapat diterima oleh telinga lintas generasi.

"Saya ingin memberikan nuansa musik Jawa yang lebih modern agar baik anak muda maupun orang tua bisa menerima karya sederhana yang saya buat. Saya bersyukur, melalui dukungan masyarakat, beberapa karya saya sempat mendapatkan apresiasi luas bahkan hingga ke luar negeri," ujarnya.

Meski kini namanya mulai dikenal, Ilham tetap sosok pemuda desa yang sederhana. Ia berasal dari keluarga wiraswasta di Ampel, Boyolali, yang terus memberikan dukungan penuh atas pilihannya bermusik. Baginya, menjadi seorang musisi bukan sekadar mengejar popularitas, melainkan sebuah misi agar generasi muda tidak lagi merasa rendah diri dalam menggunakan bahasa daerah.

Di balik setiap bait lagu yang diciptakan, Ilham membawa pesan kuat tentang jati diri. Ia memandang bahwa musik adalah jembatan paling efektif untuk menjaga warisan budaya di tengah arus globalisasi yang kian deras. Baginya, identitas sebagai orang Jawa adalah kebanggaan yang harus terus disuarakan lewat nada.

"Harapan saya untuk anak muda, jangan pernah malu membawakan lagu-lagu Jawa. Siapa lagi kalau bukan kita sebagai anak muda yang melanjutkan dan melestarikan budaya ini? Kita harus bangga, karena lagu Jawa saat ini masih terus eksis bahkan di mancanegara. Sing penting wong Jowo ora lali jawane," kata Ilham menutup perbincangan dengan jargon khasnya, "Salam Kondang Kondang Tenan".

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....