Balanca na Balanydja, Merayakan Jalur Perdagangan Teripang Indonesia-Australia

  • 28 Feb 2026 17:35 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Jalur perdagangan teripang yang menghubungkan pelaut Makassar atau Indonesia Timur dengan masyarakat Aborigin di Australia Utara dihidupkan kembali melalui karya seni pertunjukan lintas budaya Balanca na Balanydja (Belanja dan Bertukar). Karya kolaboratif ini dipentaskan pada tanggal 5, 6, dan 8 Februari 2026, di Galeri John Curtin, Perth, Australia Barat.

Pertunjukan ini menyatukan seniman Indonesia Abdi Karya dari Makassar dan Nebbie Burrarwanga, seorang seniman Yolngu dari Arnhem Land, Australia Utara. Kolaborasi ini, yang diprakarsai oleh Skinnyfish Music bekerja sama dengan Galeri John Curtin-Universitas Curtin dan Perth Festival, merayakan hubungan panjang antara Australia dan Indonesia, yang telah ada sejak abad ke-16 melalui jalur perdagangan maritim.

Abdi menjelaskan bahwa karya ini mengambil inspirasi dari sejarah bersama yang sering diabaikan dalam narasi resmi hubungan antara kedua negara. Abdi menambahkan jalur teripang bukan hanya jalur perdagangan, tetapi juga jalur pengetahuan, spiritualitas, dan kekerabatan yang terus hidup hingga saat ini.

“Kolaborator saya, Nebbie Burrarwanga, adalah bukti nyata dari hubungan ini. Ia adalah cicit generasi kelima dari Husain Daeng Rangka, pelaut Makassar terakhir yang berlayar bolak-balik mencari teripang. Bahkan menikahi seorang wanita lokal di Australia Utara, sebelum dilarang berlayar dan dipisahkan dari keluarga mereka pada tahun 1906,” ujar Abdi.

Selain pertunjukan, Galeri John Curtin juga memamerkan karya seni dari Abdi berupa tenunan layar perahu yang terinspirasi oleh tradisi tenun layar dan sarung sutera dari Sulawesi Selatan. (Foto: Dokumentasi Abdi Karya)

Melalui karya ini, Abdi ingin menghidupkan kembali ingatan maritim yang menghubungkan Indonesia dan Australia melalui pelaut Indonesia dan Aborigin Australia. “Indonesia memegang tempat yang sangat istimewa dalam kehidupan dan budaya masyarakat Aborigin Australia,” kata Abdi Karya.

Dalam pertunjukan ini, penonton diajak untuk menyelami narasi simbolis pertemuan dua dunia melalui tradisi pelayaran Nusantara/Kepulauan, kosmologi dan garis lagu masyarakat Yolngu, dan jejak sejarah bersama yang tercatat dalam lukisan gua, lukisan kulit kayu, lagu-lagu sakral, dan cerita lisan lintas generasi.

Selain pertunjukan, Galeri John Curtin juga memamerkan karya seni dari Abdi berupa tenunan layar perahu yang terinspirasi oleh tradisi tenun layar dan sarung sutera dari Sulawesi Selatan. Disamping itu, dipamerkan juga karya-karya dari para master Aborigin senior Australia seperti Mawalan Marika dan Margareth Rarru.

Kurator Galeri John Curtin, Lia McKnight, mengatakan bahwa, meskipun sejarah hidup ini masih kurang dikenal di Australia selatan, sejarah ini berkembang melalui karya dinamis dari para kreator berbakat seperti Nebbie, Michael Hohnen dan Abdi.

“Melalui lagu, tarian, dan seni, praktik mereka lebih dari sekadar menghormati masa lalu. Mereka menghidupkan narasi baru. Di sini, memori tidak pernah pasif. Ia adalah tindakan penciptaan yang aktif, nyata dan komunal,” kata Lia McKnight.

Nebbie Burrarwanga, seorang seniman Yolngu dari Arnhem Land, Australia Utara. (Foto: dokumentasi Marnie Richardson & Sharon Baker)

Menurut Michael Hohnen, produser Skinnyfish-Music dan salah satu penggagas proyek ini, ia diundang untuk menciptakan karya lintas disiplin yang tidak hanya berfungsi sebagai karya visual tetapi juga sebagai simbol perjalanan maritim dan pertukaran budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad.

"Saya memahami dari Abdi dan persahabatan yang ia bangun dengan Nebbie dan sesama seniman di Australia Utara dan Sulawesi bahwa makna perahu, layar, sarung, dan karya-karya dalam proyek kami hadir sebagai wujud yang melestarikan perjalanan,” ucap Michael Hohnen.

“Mereka menangkap ingatan akan angin, ombak, doa, dan memori kolektif para pelaut yang menghubungkan Australia dengan Indonesia. Dalam konteks saat ini, artefak-artefak ini berfungsi sebagai media untuk diplomasi budaya," ujar Michael menambahkan.

Nebbie kemudian berbagi momentum hangat, "Selama penerbangan delapan jam dari kampung halaman saya di Pulau Elcho, Australia Utara, ke Perth, Australia Barat, banyak penumpang menyapa saya dan bertanya apakah saya orang Indonesia karena mereka melihat saya mengenakan batik dan kaos Makassar,” kata Nebbie.

“Saya memberi tahu mereka bahwa leluhur saya berasal dari Makassar. Saya akan tampil dalam sebuah pameran yang merayakan hubungan Australia-Indonesia, sebuah hubungan yang tidak banyak diketahui orang," ucap Nebbie.

Seniman Abdi Karya mengatakan seni memungkinkannya untuk berbicara melampaui bahasa dan batasan politik. (Foto: dokumentasi Marnie Richardson & Sharon Baker)

Program Balanca na Balanydja juga mencakup lokakarya bercerita melalui sarung dan diskusi terbuka untuk publik, yang dirancang untuk menyediakan ruang dialog dan pertukaran pengetahuan lintas budaya dalam konteks festival seni internasional.

Lebih dari sekadar pertunjukan seni, program ini dianggap signifikan secara strategis dalam diplomasi budaya Australia-Indonesia. Jalur perdagangan teripang dianggap sebagai salah satu hubungan internasional tertua di kawasan Indo-Pasifik, yang dibangun jauh sebelum kolonialisme modern, oleh masyarakat adat, pelaut, dan pengetahuan leluhur.

Abdi menambahkan seni memungkinkannya untuk berbicara melampaui bahasa dan batasan politik. “Seni menawarkan cara lain untuk melihat hubungan Australia-Indonesia, bukan hanya sebagai hubungan antar negara, tetapi sebagai hubungan antar manusia," ucap Abdi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....