Setu Sinau Sulap Malioboro Jadi Ruang Belajar Budaya Terbuka

  • 28 Feb 2026 05:08 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta- Jalan Malioboro bukan sekadar deretan toko atau lokasi berfoto bagi wisatawan. Kawasan ini merupakan koridor filosofis yang menghubungkan Tugu Pal Putih, Keraton Yogyakarta, hingga Panggung Krapyak dalam satu garis imajiner yang sarat makna.

Namun seiring waktu, Malioboro lebih sering dipandang sebagai pusat perbelanjaan semata. Aktivitas ekonomi yang dominan perlahan menutupi identitasnya sebagai ruang hidup kebudayaan Yogyakarta.

Kepala Dinas Kebudayaan Kundha Kabudayan Kota Yogyakarta Yetti Martanti menyampaikan dengan hal itu hadir program Setu Sinau sebagai ruang belajar budaya yang terbuka bagi semua kalangan.

“Program ini menyasar generasi muda, wisatawan yang tengah berada di lokasi, hingga tamu hotel di sepanjang kawasan Sumbu Filosofi,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Selain itu Setu Sinau dikemas secara menarik dan menyenangkan agar mudah diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat. Kegiatan ini rutin digelar setiap Sabtu pagi di sepanjang Jalan Malioboro dengan melibatkan pelaku seni budaya, baik individu maupun komunitas, sesuai bidang keahlian masing-masing.

Yetti menambahkan karena saat ini bulan Ramadan, setelah pembukaan hari ini, akan dimulai setelah lebaran.

“Nantinya masyarakat bisa berpartisipasi dan mengikuti kelas setiap Sabtu pagi mulai pukul 07.00 - 09.00 WIB,” katanya.

Program ini berkembang menjadi gerakan budaya yang melibatkan masyarakat Yogyakarta secara luas. Ruang terbuka di sepanjang Malioboro pun disulap menjadi panggung interaksi kreatif yang memantik perhatian pengunjung.

Melalui Setu Sinau, Malioboro diposisikan kembali sebagai living museum tempat orang belajar kebudayaan secara langsung. Pengunjung tidak hanya menyaksikan, tetapi juga berinteraksi dan merasakan denyut tradisi yang hidup di ruang publik.

Nilai tambah utama program ini terletak pada pengalaman yang dibawa pulang oleh setiap peserta. Malioboro kini tak lagi sekadar ruang konsumsi, melainkan ruang makna yang meninggalkan kesan emosional dan pengetahuan budaya yang tak ternilai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....