Mengapa Uang Baru Selalu di Buru jelang Lebaran?
- 27 Feb 2026 15:27 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Menjelang lebaran, menukar uang baru sudah menjadi tren di masyarakat. Hal ini membuat layanan penukaran uang baru selalu diburu jelang Hari Raya. Dikutip dari laman CNBC Indonesia.com, ada sejumlah alasan di balik fenomena musiman tersebut :
Tradisi berbagi saat Lebaran
Lebaran identik dengan momen silaturahmi dan berbagi kebahagiaan. Salah satu tradisi yang paling dinantikan, terutama oleh anak-anak yaitu menerima uang baru dari orang tua, kerabat, atau tetangga.
Biasanya, uang diberikan kepada keponakan, cucu, atau anak-anak yang datang bersilaturahmi ke rumah. Jumlah uang baru yang diberikan bervariasi, ada pecahan Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000, Rp20.000, Rp50.000 hingga Rp100.000. Selain sebagai wujud berbagi rezeki, tradisi ini juga menjadi simbol rasa syukur dan mempererat hubungan kekeluargaan.
Mengapa uang baru?
Banyak orang yang rela antre demi menukarkan uang baru. Dalam budaya masyarakat Indonesia, uang baru dianggap lebih rapi, bersih, dan pantas untuk diberikan sebagai hadiah.
Memberikan uang yang masih kaku dan tidak lusuh dinilai sebagai bentuk penghargaan kepada penerima. Sebaliknya, uang yang kusut atau sudah lama beredar sering dianggap kurang layak untuk dibagikan dalam momen spesial seperti Lebaran.
Permintaan meningkat tajam.
Fenomena berburu uang baru tidak hanya terjadi di tingkat rumah tangga, tetapi juga berdampak pada sistem keuangan secara nasional. Menjelang Ramadan hingga Idulfitri, permintaan uang tunai biasanya meningkat signifikan.
Aktivitas konsumsi masyarakat naik, mulai dari belanja kebutuhan pokok, transportasi mudik, hingga pembagian THR. Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, Bank Indonesia setiap tahun menyiapkan tambahan uang kartal dalam jumlah besar. Layanan penukaran uang baru juga disediakan melalui bank umum maupun kas keliling di berbagai daerah.
Faktor psikologis dan kebiasaan
Banyak orang merasa lebih puas dan percaya diri saat membagikan uang baru kepada keluarga atau kerabat. Bagi sebagian orang, kebiasaan ini juga dipengaruhi oleh nostalgia masa kecil ketika mereka menerima uang baru saat Lebaran. Pengalaman tersebut kemudian diteruskan ke generasi berikutnya.
Selain itu, ada pula faktor sosial. Dalam lingkungan tertentu, memberikan uang dengan nominal yang dianggap kurang layak dapat menimbulkan rasa tidak enak atau khawatir dinilai pelit. Akhirnya, masyarakat cenderung mengikuti standar sosial yang sudah terbentuk.
Praktis mengatur anggaran THR
Dari sisi keuangan pribadi, menyiapkan uang pecahan kecil sebenarnya juga membantu dalam mengelola anggaran. Dengan menukar uang terlebih dahulu, seseorang bisa menentukan total dana yang akan dibagikan, mengatur nominal untuk setiap penerima, menghindari pengeluaran spontan saat silaturahmi. Tanpa perencanaan, pembagian uang saat Lebaran berpotensi membuat pengeluaran membengkak karena dilakukan secara impulsif.
Bijak dalam berbagi
Meski berbagi merupakan bagian dari semangat Lebaran, masyarakat tetap perlu menyesuaikannya dengan kemampuan finansial masing-masing. Beberapa tips sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
- Menentukan anggaran THR sejak awal
- Menyesuaikan nominal dengan jumlah penerima
- Menghindari menambah pengeluaran di luar rencana
- Menukar uang melalui jalur resmi
Dengan perencanaan yang baik, tradisi berbagi tetap bisa membawa kebahagiaan tanpa menimbulkan beban keuangan setelah Lebaran.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....