Sukaryanto, Kepala Dusun Multitalenta Pelestari Budaya

  • 27 Feb 2026 15:23 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Menjadi seorang pamong memang tidak semudah yang dibayangkan, bukan hanya harus berbekal kemampuan ilmu namun juga harus bisa memberikan teladan kepada masyarakat yang dipimpinnya. Setidaknya begitu yang dilakukan oleh Sukaryanto, Kepala Dusun Terwilen, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman ini.

Sukaryanto menuturkan, masyarakat sekarang sudah cerdas, mereka tidak lagi mau diguroni (didikte) apalagi hanya diperintah.

“Tapi lebih dari itu kita sebagai pamomong harus bijak dan bisa memberikan contoh. Untunglah saya juga senang menggeluti kesenian tradisional, nah dari situ saya mendapat banyak ilmu tentang cara melayani orang banyak dengan berbagai macam warna dan kepentingan yang berbeda,” ucap dia.

Sebagai kepala dusun, dirinya sangat mendukung pelestarian budaya yang adiluhung.

Lha di dalam kesenian tradisional itu kan ada gamelan. Dari wujudnya, bunyi, bahan saja sudah bermacam macam. Namun ketika ditabuh dengan rampak menurut penatanya ya akan terdengar merdu dan enak. Itulah adiluhungnya budaya warisan leluhur kita ini,” ucap lelaki berpenampilan kalem ini.

Apa yang diutarakan tersebut bukan isapan jempol semata. Di rumahnya, Sukaryanto juga mendirikan sanggar seni yang menghimpun potensi warga, khususnya anak muda dalam kegiatan kesenian tradisional seperti karawitan, kethoprak, pedalangan, pranatacara, dan lainnya.

Sukaryanto mengakui, bahkan banyak dari anggota sanggar seninya yang sudah berprestasi di tingkat Kapanewon maupun Kabupaten.

“Dengan pendekatan budaya saya kira lebih efektif, mereka bukan hanya kita ajak untuk belajar kesenian. Namun lebih dari itu, mereka juga kita berikan wawasan tentang nilai-nilai budaya itu sendiri. Lha saya juga nggak cuma ngajari tapi juga ikut di dalamnya,” ucap dia.

Lebih lanjut, Sukaryanto menambahkan, apa yang dilakukannya sepenuhnya ikhlas, tanpa bayaran. Hal itu karena menjadi salah satu wujud pengabdian dan pelayanan sebagai dukuh.

“Harapan kami semoga budaya tradisi leluhur ini tetap mengakar dimasyarakat, bertahan dan tidak terdesak oleh budaya dari luar yang belum tentu cocok dengan kepribadian kita,” ujar sosok yang menjabat kepala dukuh sejak tahun 1991 ini mengakhiri bincangnya dengan RRI.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....