Tradisi Ruwahan jelang Ramadan, Warga Gendeng Kirab Gunungan Apem
- 17 Feb 2026 07:51 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Tradisi budaya di Yogyakarta terus dilestarikan termasuk di Kampung Gendeng, Kelurahan Baciro dengan menggelar Kirab Gunungan Apem. Tradisi Ruwahan atau menjelang bulan Ramadan ini sudah memasuki penyelenggaraan tahun ke-13.
Tradisi budaya yang terus lestari di lingkungan perkotaan ini sebagai wujud rasa syukur. Kirab yang berlangsung meriah dan penuh antusiasme ini hampir setiap ruas kampung sudah dipadati warga sejak pagi hari.
Zaman Tidak Menggerus Budaya
Meski pesatnya teknologi yang berkembang dan perubahan zaman yang menuntut adanya modernisasi, namun tradisi yang berkembang terus lestari. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak, remaja, hingga warga lanjut usia turut ambil bagian dalam kirab ini.
Peserta pawai mengenakan busana tradisional, membawa hasil bumi, serta menampilkan beragam kreasi seni dan budaya. Iringan musik tradisional, atraksi kesenian, hingga kostum tematik menambah semarak suasana, menjadikan kirab sebagai ruang ekspresi budaya sekaligus ajang mempererat kebersamaan warga.
Ketua Panitia Kirab Fajar Ristanto menyampaikan, tahun ini dua gunungan diarak berkeliling kampung, yakni Gunungan Lanang dan Gunungan Wedhok yang berisi apem serta ketan kolak, sesuai dengan tradisi Ruwahan. Dua gunungan ini nanti diperebutkan masyarakat.
"Karena ini momentum Ruwah, maka kita fokus pada makna syukur dan doa,” katanya, Minggu, 15 Februari 2026.
Rangkaian kegiatan juga telah dilaksanakan dengan doa bersama, kembul bujono, serta tabur bunga di makam para pinisepuh sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah dilaksanakan pada Sabtu, 14 Februari 2026.
Fajar juga mengisahkan sejarah singkat Kampung Gendeng yang dahulu merupakan wilayah kecil dengan kolam-kolam ikan dan tegalan. Nama-nama gang seperti Lele, Mujair, hingga Tawes menjadi jejak sejarah tersebut, kawasan ini juga merupakan tegalan atau tanah kering yang ditanami ketela, sukun, dan tanaman kebun lainnya secara konvensional. Kini, Kampung Gendeng telah berkembang pesat dengan 35 RT, 7 RW, dan sekitar lebih dari 1.900 kepala keluarga.
“Kampung Gendeng ini dulu termasuk kampung yang sangat kecil karena mulai tahun 40-an baru ditinggali. Kegiatan satu tahun sekali ini harapannya semua pihak dapat ambil bagian karena ini nguri-uri kabudayan yang tidak boleh kita tinggalkan dan harus tetap kita lestarikan. Semua pihak dapat bersatu padu berjalan seiringan dengan pengurus dan event yang akan dilakukan di tahun yang akan datang,” ujarnya.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo dalam menyampaikan apresiasi konsistensi masyarakat Kampung Gendeng dalam menjaga tradisi selama lebih dari satu dekade. Menurutnya tradisi yang dirawat secara gotong royong ini juga sekaligus menjadi kekuatan budaya Kota Yogyakarta.
Hasto menegaskan, tradisi Ruwahan mengandung makna bersih lahir dan batin, yang juga tercermin dalam kepedulian terhadap kebersihan lingkungan. Ia juga mengapresiasi kuatnya semangat gotong royong warga Kota Yogyakarta yang dinilainya tetap terjaga meski berada di wilayah perkotaan.
“Tradisi ruwahan niki simbah-simbah riyen mestani bersih-bersih. Bersih niku artine resik. Saya berharap di Kota Yogyakarta jangan ada rumput liar, jangan ada sampah liar. Semua kita bersihkan,” katanya.
Gotong royong masyarakat meski di Kota namun menjadi pondasi kuat dalam mendukung upaya penanganan permasalahan di Yogyakarta, khususnya sampah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....