Bertahan di Kala Krisis, Subandi Abdikan Diri Lestarikan Wayang Tatah Sungging
- 19 Jul 2026 13:28 WIB
- Yogyakarta
Video
RRI.CO.ID, Bantul - Kerajinan tatah sungging wayang kulit di Padukuhan Gendeng, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, pernah berjaya di masanya. Namun, kini jumlah perajin di wilayah ini semakin menyusut dan hanya menyisakan sekitar 30 orang.
Fenomena itu membuat salah satu perajin wayang kulit senior, Subandi Giyanto, berupaya mewariskan keahlian tersebut kepada anak-anak di lingkungan sekitar. Ditemui di kediamannya, pria 68 tahun ini terlihat tengah sibuk menyungging atau memberi warna pada permukaan wayang.
Subandi mengungkapkan dirinya sudah menggeluti dunia pembuatan wayang sejak tahun 1965. Keahlian itu ia dapatkan saat memperhatikan ayahnya yang merupakan perajin wayang kulit.
Subandi menambahkan, wayang kulit buatannya menggunakan bahan kulit kerbau. Bagi orang awam, menatah atau memahat pada media tersebut cukuplah menyulitkan.
Saat ini, Subandi menjadi satu dari sejumlah perajin yang masih bertahan. Meski jumlah perajin semakin terkikis, Subandi tak patah semangat untuk mengajarkan keterampilan membuat wayang kepada generasi muda. Setiap hari Sabtu, ia dengan telaten membimbing sejumlah anak di sekitar rumahnya untuk belajar menatah dan menyungging.
Sementara itu, Lurah Bangunjiwo, Parja menyatakan bahwa pemerintah kalurahan memberikan dukungan penuh terhadap upaya pelestarian budaya yang dilakukan oleh perajin kawakan tersebut. Ia pun mengakui bahwa Padukuhan Gendeng mengalami krisis regenerasi perajin tatah sungging wayang kulit.
Sebagai informasi, dalam sekali pengerjaan wayang kulit Subandi membutuhkan waktu sekitar satu pekan. Satu buah karanya dibanderol dengan harga 1,5 juta rupiah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....