Nanang Haryanto, Tunanetra Kreatif Mahir Teknologi

  • 16 Nov 2022 20:33 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta : Siang itu, Nanang Haryanto (40) sedang menunggu pelanggan di kursi. Tangannya dengan lincah mengoperasikan telepon pintar yang digenggamnya. Tidak seperti telepon pintar pada umumnya, benda ini mengeluarkan suara ketika ditekan.

“Pesan baru diterima,” begitu salah satu bunyinya.

Gawai tersebut memang telah dirancang khusus bagi penyandang tunanetra. Mengingat keterbatasan tunanetra dalam melihat, suara menjadi cara agar gawai ini tetap bisa digunakan oleh mereka. Gawai ini jugalah yang menjadi sarana sehari-hari bagi Nanang Haryanto dalam bekerja.

“Sekarang pelanggan kan sudah jarang yang SMS atau telepon, kebanyakan pada pakai Whatsapp. Jadi ya saya mau tidak mau harus mengikuti,” jelasnya kepada RRI, Senin (14/11/2022).

Sudah lebih dari 20 tahun Nanang Haryanto menjadi seorang terapis pijat tunanetra. Baginya, menjadi terapis pijat adalah sarana untuk menolong orang lain.

“Selain itu, kita juga bisa mengenal berbagai karakter manusia. Ada yang keras, lembut, macem-macem Mas pokoknya,“ ujarnya.

Berbicara tentang terapis pijat tunanetra, profesi ini mungkin bukan sesuatu yang asing. Menurut Nanang, ada ratusan pemijat tunanetra di Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun profesi ini tak selalu menguntungkan, apalagi di masa pandemi seperti saat ini.

Selama pandemi, penghasilannya anjlok drastis. Pesanan pijat yang ia terima turun dan tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Penurunan ini terjadi karena orang agak takut untuk menggunakan jasa kita,” jelasnya.

Namun, Nanang tak hilang akal. Di tengah keterbatasannya, dengan gigih ia belajar teknologi digital. Tentu, berbagai hambatan ditemuinya selama proses ini.

“Saya belajar menggunakan uang sendiri, lebih banyak otodidak dengan melihat tutorial di Youtube,” jelas Nanang.

Kini selain memijat, ia juga membantu teman-teman tunanetra yang kesulitan mengoperasikan telepon pintar. Misalnya untuk pembuatan akun Facebook, cara meggunakan aplikasi pembaca uang, membaca teks di PDF, dan lain-lain.

“Dari situ lumayan lah ada pemasukan tambahan,” ujarnya sumringah.

Selain itu, Nanang juga berjualan secara daring. Ia menjual kuota internet, token listrik, serta berbagai pembayaran digital lainnya.

Awal Mula Memijat

Kisahnya bermula dari tahun 2000. Setelah menyelesaikan pendidkan di Sekolah Integrasi (sekarang Sekolah Inklusi, red) selama enam tahun dan SLB Kalibayem selama tiga tahun, dirinya kemudian melanjutkan pendidikan di Panti Sosial Bina Netra Sadewa selama tiga tahun. Di situlah dirinya diajarkan teknik-teknik memijat bagi tunanetra.

“Setelah lulus dari sana, saya membuka jasa pijat hingga sekarang,” jelas Nanang.

Awalnya, Nanang hanya menjadi terapis pijat panggilan. Namun, waktu menjadi kendala utamanya. Waktu yang dimilikinya banyak terbuang di jalan sehingga tidak banyak pelanggan yang bisa dilayaninya dalam sehari.

Sebenarnya, Nanang memiliki tempat bagi orang yang ingin datang pijat. Namun, tempatnya yang lama sering dikeluhkan oleh pelanggan karena dianggap kurang nyaman.

“Banyak yang bilang tempatnya kurang strategis, ruangannya terlalu sempit, atau sirkulasi udaranya kurang bagus,” jelas Nanang.

Namun menurutnya, jika keluhan tentang pelayanan terhitung jarang. Biasanya yang kadang dikeluhkan pelanggan adalah mengenai minyak yang dipakai. Semisal tidak cocok, dirinya harus keluar untuk membeli minyak yang lain. Pelanggan kadang juga mengeluhkan pijatannya yang kurang kuat. Namun, dirinya selalu berusaha memperbaiki itu dengan memperbanyak tenaga.

“Saya juga menggunakan teknik-teknik pemijatan yang baru sehingga menghasilkan pemijatan yang lebih baik dengan cara browsing atau berdiskusi dengan teman-teman yang lain,” jelas Nanang.

Sebelum pandemi, dalam sehari Nanang bisa mendapatkan tiga hingga empat pelanggan. Jika ditotal, dalam sebulan ia bisa mendapatkan hingga tiga juta rupiah.

“Kalau sebelum 2010 itu per orang tarifnya 25 ribu. Jadi dikalikan jumlah pelanggan per hari ya sekitar 3 juta per bulan” jelasnya.

Namun, jumlah tersebut diakuinya bukan jumlah pasti. Hal ini dikarenakan kadang ada hari di mana tidak ada pelanggan sama sekali. Menginjak 2010 ke atas, tarif yang ia berikan naik menjadi Rp50.000,00. Kenaikan ini dilakukan mengingat adanya inflasi. Dengan pemasukan seperti itu, menurutnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Saya pribadi merasa cukup karena saya belum punya tanggungan. Jadi kalau untuk makan, beli kuota dan lain sebagainya sudah cukup,” ujarnya.

Nanang juga menjelaskan bahwa dari profesinya ini, ia menjadi paham bagaimana orang memperlakukan kaum difabel.

“Kita jadi tahu anggapan masyarakat dengan keberadaan kami sebagai tunanetra, “ ujarnya.

Saat ini, Nanang membuka Klinik Pijat Prima Sehat yang terletak di Ambarketawang, Gamping. Penggunaan kata 'klinik' dilakukan karena kata 'panti' sudah dilarang oleh Menteri Sosial.

“Sudah sekitar lima tahunan ini dilarang, karena kalau panti kesannya agak negatif,” jelasnya.

Kepada teman-teman tunanetra di Jogja, Nanang berpesan untuk tetap semangat dan terus mencari pekerjaan sampingan lain selain memijat dengan memanfaatkan teknologi yang sudah ada.

Harapan saya bagi teman-teman tunanetra yang kesulitan pijat bisa saya tampung di sini. Saya juga berharap bisa menjangkau lebih banyak pelanggan, “lanjutnya.

Ibnugroho (52), salah satu pelanggan di Klinik Pijat Prima Sehat mengaku puas dengan pelayanan yang disediakan. Beberapa kali ia mencoba pijat di tempat lain, tetapi ia lebih cocok di sini karena pijatannya terasa halus.

“Tekanannya bisa disesuaikan, setelah pijat badan juga merasa lebih enak,” jelasnya. (daniel/yyw).

Rekomendasi Berita