BRIN Waspadai Super El Nino hingga Tahun 2028

  • 05 Okt 2026 07:52 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan adanya potensi fenomena Super El Nino pada 2026–2027 yang dapat membawa dampak signifikan terhadap kondisi iklim Indonesia. Fenomena tersebut berpotensi memicu musim kemarau lebih panjang serta meningkatkan tekanan panas ekstrem di sejumlah wilayah.

Peneliti Senior Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan dampak El Nino di Indonesia tidak berlangsung seragam. Perbedaan kondisi geografis dan faktor lokal membuat respons setiap wilayah dapat berbeda, sehingga mitigasi perlu mempertimbangkan karakteristik daerah masing-masing.

“Perambatan gelombang El Nino memicu pergeseran musim kemarau yang lebih panjang serta meningkatkan ancaman tekanan panas ekstrem,” ujar Erma.

Perbedaan tersebut terlihat dari kondisi sejumlah daerah. Bogor masih dapat mengalami hujan karena pengaruh topografi pegunungan dan kondisi lokal, sementara Lamongan, Jawa Timur, mengalami periode kering yang lebih panjang. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberadaan El Nino tidak serta-merta membuat seluruh wilayah Indonesia mengalami cuaca yang sama.

Dampak yang perlu diwaspadai juga mencakup sektor pangan dan lingkungan. Kekeringan yang berlangsung lebih lama berpotensi mengganggu produksi padi akibat pergeseran musim. Selain itu, kajian BRIN menunjukkan Kalimantan dan Papua termasuk wilayah yang memiliki kerentanan terhadap tekanan panas berdasarkan indeks Wet Bulb Globe Temperature (WBGT), yang juga berkaitan dengan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Ancaman kekeringan bahkan diperkirakan tidak berhenti pada periode 2026–2027. Berdasarkan simulasi menggunakan 14 model iklim NASA NEX-GDDP, Erma menyebut dampak kekeringan akibat El Nino berpotensi berlanjut hingga periode 2027–2028.

“Kondisi tersebut menunjukkan perlunya kewaspadaan jangka panjang dari berbagai pihak,” ucap Erma.

Sementara itu, Mark Merrifield dari Scripps Institution of Oceanography menyampaikan bahwa anomali suhu permukaan laut di Pasifik Khatulistiwa menunjukkan sinyal kuat menuju fase Super El Nino. Untuk periode Oktober hingga Desember 2026, ia menyebut terdapat peluang 75 persen fenomena tersebut menjadi peristiwa yang kekuatannya melampaui rekor El Nino sebelumnya sejak 1950-an dan diperkirakan bertahan hingga awal 2027. “Untuk musim Oktober hingga Desember 2026, terdapat peluang sebesar 75 persen bahwa fenomena ini akan menjadi peristiwa bersejarah,” katanya.

Menghadapi potensi tersebut, BRIN memperkuat kolaborasi dengan Scripps Institution of Oceanography untuk meningkatkan kajian mengenai dinamika El Nino. Kerja sama tersebut mencakup mobilisasi sumber daya riset dan pengoperasian kapal riset Baruna Jaya milik BRIN guna memperkuat pengamatan iklim. Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung kesiapsiagaan menghadapi berbagai kemungkinan dampak, mulai dari kekeringan dan panas ekstrem hingga risiko di wilayah pesisir.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....