Pakar UGM Minta Petani Sesuaikan Kalender Tanam Antisipasi El Nino

  • 30 Sep 2026 14:24 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, YOGYAKARTA – Fenomena El Nino yang menguat dan diperkirakan mencapai intensitas sangat kuat pada akhir 2026 berpotensi membawa dampak terhadap ketahanan pangan di berbagai wilayah. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan El Nino akan bertahan hingga Februari 2027. Di Indonesia, fenomena ini diperkirakan memicu kemunduran awal musim hujan yang mempengaruhi kegiatan pertanian, terutama pola tanam dan produksi pangan.

Merespons fenomena tersebut, Guru Besar Bidang Agroklimatologi UGM Prof. Dr. Bayu Dwi Apri Nugroho, S.T.P., M.Agr. mengatakan bahwa perubahan pola hujan perlu diikuti dengan penyesuaian kalender pertanian. Kemunduran musim hujan akan berdampak pada mundurnya jadwal tanam yang kemudian turut menggeser waktu panen.

“Tentunya ini berpengaruh pada kalender dan jadwal tanam yang otomatis mundur, dan mundurnya jadwal tanam ini tentunya juga mengakibatkan mundurnya jadwal panen,” katanya, Senin, 28 September 2026.

Menurutnya, pergeseran jadwal panen dapat mempengaruhi ketersediaan stok pangan nasional. Ia mengingatkan pentingnya menjaga ketahanan stok pangan yang ada selama menunggu masa panen berikutnya agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.

Dari segi produksi, komoditas pangan yang membutuhkan banyak air seperti padi dan jagung menjadi yang paling rawan terdampak. Keterbatasan air selama masa pertumbuhan dapat meningkatkan risiko gagal tanam maupun penurunan produktivitas yang memicu kenaikan harga pangan.

“Apabila ketersediaan airnya kurang, ya tentunya akan menyebabkan penurunan produktivitas, dan dengan turunnya produktivitas akan menyebabkan harga yang mahal dan berakibat pada perekonomian secara nasional,” ujarnya.

Untuk mencegah dampak buruk tersebut, ia mendorong pengembangan varietas tanaman tahan kekeringan, penerapan metode pertanian hemat air, serta percepatan diversifikasi pangan guna mengurangi ketergantungan pada beras.

Ia juga menyarankan pemanfaatan teknologi pemanenan air hujan sejak dini agar ketersediaan air bagi lahan pertanian tetap terjaga. “Teknologi pemanenan hujan, kita manfaatkan dan tampung air hujan saat hujan turun juga menjadi suatu keharusan saat ini. Yang biasanya kita hanya membiarkan air hujan lepas atau mengalir saja, mulai sekarang kita harus berpikir untuk menampung air-air tersebut,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....