Capung, Predator Udara di Dunia yang Terancam Punah karena Krisis Lahan Basah
- 21 Sep 2026 13:01 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kelompok serangga predator udara utama dunia, capung, kini menurut laman Ensiklopedia Britannica tengah menghadapi krisis kelangsungan hidup. Berdasarkan penilaian global International Union for Conservation of Nature (IUCN) dalam pembaruan Daftar Merah Spesies Terancam Punah, sebanyak 16 persen spesies capung dan capung jarum di seluruh dunia berstatus terancam punah.
Penurunan populasi yang signifikan ini disebabkan oleh hilangnya habitat secara luas di area lahan basah dan sepanjang aliran sungai. Capung merupakan kelompok yang mencakup sekitar 3.000 spesies serangga predator di dekat habitat air tawar. Bersama capung jarum, serangga ini tergolong ke dalam ordo Odonata.
Sebagai salah satu serangga tercepat, capung dewasa memiliki tubuh panjang dengan dua pasang sayap sempit bermembran. Berbeda dari capung jarum yang melipat sayap secara vertikal saat beristirahat, capung membentangkan sayapnya secara horizontal.
Capung dilengkapi mata besar menonjol yang memberikan sudut pandang hingga mendekati 360 derajat. Ukurannya bervariasi dari yang terkecil sekitar 20 milimeter hingga spesies berukuran rentang sayap mencapai 16 sentimeter.
Kelincahan dan kecepatannya menjadikan capung sebagai predator udara terunggul yang rutin memangsa nyamuk, lalat, hingga hewan lain dengan berat mencapai 60 persen dari bobot tubuhnya.
Siklus hidup capung dimulai dari telur yang diletakkan di dalam air atau jaringan tanaman. Larva capung merupakan predator air yang tangguh. Larva menyerap oksigen melalui insang di dalam rektum dan memompa air keluar dari anus sebagai mekanisme dorongan jet untuk melarikan diri.
Untuk menangkap mangsa seperti larva nyamuk, berudu, hingga ikan kecil, larva capung menggunakan organ khusus bernama topeng. Setelah melewati beberapa kali proses berganti kulit, larva merangkak keluar dari air dan menetas menjadi capung dewasa.
Selain kemampuan berburu, beberapa spesies capung memiliki daya jelajah luar biasa. Spesies globe skimmer mampu melakukan perjalanan migrasi tahunan lintas generasi sejauh 18.000 kilometer. Penurunan populasi serangga ini menjadi sinyal kritis bagi kerusakan ekosistem air tawar secara global.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....