Cintya Amanda Perkuat Peran Muda dalam Demokrasi
- 18 Sep 2026 09:00 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Cintya Amanda Labetta Arie Seno, S.H., M.H. kembali terlibat dalam forum politik dan demokrasi tingkat internasional di Yogyakarta. Politisi muda PDI Perjuangan tersebut menjadi bagian dari panitia pelaksana lokal CALD Conference on Democratic Resilience in Southeast and East Asia yang digelar bersamaan dengan 9th CALD Party Management Workshop pada 3–7 September 2026. Forum tersebut mempertemukan peserta dari sejumlah negara Asia untuk membahas ketahanan demokrasi dan penguatan kelembagaan partai.
Keterlibatan tersebut melanjutkan pengalaman Cintya di arena politik elektoral. Pada Pemilu 2024, ia tercatat sebagai calon anggota DPRD DIY dari PDI Perjuangan untuk Dapil DIY 5 dengan nomor urut sembilan. Dapil tersebut meliputi Gamping, Godean, Moyudan, Minggir, Seyegan, Mlati, Depok, dan Berbah. Data KPU menunjukkan Cintya memperoleh 5.393 suara sah calon dalam rekapitulasi untuk wilayah tersebut.
Dalam CALD Conference 2026, Cintya turut menyampaikan pandangan mengenai keterwakilan perempuan dan generasi muda dalam politik. Ia menyoroti bahwa akses politik bagi kedua kelompok tersebut masih menjadi salah satu persoalan yang dibahas dalam forum, termasuk kaitannya dengan keterwakilan di lembaga legislatif. Selain itu, diskusi juga mencakup kemunduran demokrasi, kebebasan berbicara, kebebasan pers, serta ruang masyarakat sipil.
Menurut Cintya, forum internasional tersebut tidak semata menjadi ruang pertukaran gagasan, tetapi diharapkan menghasilkan pembahasan yang dapat ditindaklanjuti. Ia menilai pengalaman dari berbagai negara dapat menjadi bahan pembelajaran bersama dalam menghadapi tantangan demokrasi yang memiliki sejumlah kesamaan di kawasan Asia. “Untuk kegiatannya sebenarnya ini lebih ke diskusi, tapi kami harap diskusi ini bukan cuma sekadar diskusi tukar pikiran, tapi juga diskusi yang bisa membuahkan hasil,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa kemunduran demokrasi tidak selalu ditandai dengan hilangnya sistem demokrasi secara formal. Menurutnya, fenomena tersebut dapat muncul melalui perubahan dalam praktik politik dan menguatnya populisme yang membuat institusi demokrasi tetap berjalan secara prosedural, tetapi menghadapi tantangan dalam menjalankan prinsip-prinsip demokrasi. “Jadi lebih bertukar pengalaman, bertukar pikiran dan kira-kira bagaimana kita kembali menguatkan demokrasi. Karena pentingnya demokrasi ini merupakan hal yang harus diperjuangkan,” ujarnya.
Yogyakarta dipilih sebagai lokasi konferensi karena memiliki sejarah penting dalam perjalanan Indonesia serta tradisi masyarakat sipil, komunitas akar rumput, dan pertukaran gagasan. Cintya menyebut konferensi CALD tersebut merupakan penyelenggaraan ke-9 yang berlangsung bergantian di berbagai negara, dengan Yogyakarta menjadi tuan rumah pada 2026. Forum itu juga diikuti sekitar 120 peserta, termasuk 30 pemimpin dan pejabat politik dari 12 negara Asia.
Di luar pengalaman politik, Cintya memiliki latar belakang pendidikan hukum dari Universitas Indonesia. Dokumentasi Fakultas Hukum UI mencatat skripsinya pada 2023 berjudul Perbandingan Pertanggungjawaban Orang Tua Terhadap Perbuatan Melawan Hukum yang Dilakukan oleh Anak (Perbandingan Hukum Indonesia, Austria, dan California). Perjalanan tersebut memperlihatkan keterlibatannya pada tiga ruang sekaligus, yakni pengalaman elektoral, pendidikan hukum, dan forum internasional yang membahas demokrasi serta peran perempuan dan generasi muda.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....