Media Sosial dan Fitnah: Menjaga Hati Era Digital
- 17 Sep 2026 07:26 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Media sosial kini menjadi salah satu ruang utama masyarakat untuk memperoleh informasi, berkomunikasi, hingga membentuk pandangan terhadap berbagai persoalan. Kemudahan mengakses informasi dalam hitungan detik di satu sisi memberikan banyak manfaat, tetapi di sisi lain menghadirkan tantangan berupa penyebaran informasi yang belum terverifikasi, polarisasi, serta konten yang dapat memengaruhi pola pikir dan keputusan seseorang.
Dalam perspektif Islam, derasnya arus informasi tersebut dapat menjadi bahan refleksi melalui hadis Rasulullah ﷺ tentang fitnah yang datang secara bertahap dan berpotensi memengaruhi hati manusia. Rasulullah tidak secara khusus menyebut media sosial karena teknologi tersebut belum ada pada masa beliau. Namun, pesan hadis mengenai bagaimana hati menghadapi berbagai ujian dapat menjadi pengingat bagi masyarakat dalam menyikapi paparan informasi di ruang digital.
Dalam Sahih Muslim 144a, Hudzaifah bin al-Yaman r.a. meriwayatkan sabda Rasulullah ﷺ bahwa fitnah akan ditawarkan kepada hati manusia seperti tikar yang dianyam, sedikit demi sedikit. Hati yang menerimanya akan mendapatkan tanda hitam, sementara hati yang menolaknya mendapatkan tanda putih. “Fitnah-fitnah akan ditampakkan kepada hati seperti dianyamnya tikar, sebatang demi sebatang. Hati mana yang menerimanya akan ditorehkan titik hitam padanya, dan hati mana yang mengingkarinya akan ditorehkan titik putih,” demikian sabda Rasulullah ﷺ dalam HR. Muslim 144a.
Pesan tersebut relevan menjadi bahan perenungan di tengah kebiasaan masyarakat mengonsumsi informasi secara terus-menerus melalui layar. Informasi yang muncul di media sosial tidak selalu dapat dipastikan kebenarannya. Bahkan, informasi keliru dapat terlihat meyakinkan ketika disebarkan berulang kali, memperoleh banyak interaksi, atau dibagikan oleh akun yang memiliki banyak pengikut.
Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Drs. Ana Nadhya Abrar, M.E.S., menilai penggunaan media sosial secara berlebihan dapat memengaruhi cara seseorang menerima informasi dan menjalankan proses berpikir kritis. “Media sosial dapat menjebak pengguna dalam gelombang informasi yang memperkuat bias, algoritma media sosial dalam menentukan konten sesuai kepentingan platform, menciptakan polarisasi masyarakat, dan menyebabkan ketergantungan digital serta erosi pemikiran kritis,” ujar Prof. Ana Nadhya Abrar.
Persoalan tersebut menunjukkan bahwa tantangan media sosial tidak hanya berkaitan dengan durasi penggunaan, tetapi juga pola informasi yang diterima pengguna. Algoritma dapat mendorong seseorang terus melihat konten yang sesuai dengan minat dan pandangan sebelumnya. Kondisi ini berpotensi membentuk ruang informasi yang sempit sehingga pengguna semakin jarang berhadapan dengan perspektif berbeda. Karena itu, kemampuan memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan menahan diri sebelum membagikan konten menjadi penting. “Jangan sampai informasi yang terus kita konsumsi diterima begitu saja tanpa proses berpikir dan verifikasi,” ucapnya.
Dalam konteks hadis tentang fitnah, media sosial tidak dapat secara langsung disebut sebagai alat fitnah yang dimaksud Rasulullah ﷺ karena hadis tersebut tidak membicarakan teknologi modern. Namun, nilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadi pedoman untuk menjaga hati, membedakan kebenaran dan kebatilan, serta tidak mengikuti setiap informasi maupun dorongan yang muncul. Di tengah jutaan konten yang hadir setiap hari, kebiasaan berhenti sejenak, melakukan verifikasi, dan menjaga sikap kritis menjadi semakin penting agar paparan informasi tidak secara perlahan membentuk cara berpikir dan sikap seseorang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....