Seberapa Efektif Memadamkan Karhutla dengan Tepung? Begini Penjelasan Ilmiahnya

  • 09 Sep 2026 22:25 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Penggunaan bahan berbasis singkong atau ubi sebagai solusi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan menjadi perbincangan hangat di ruang publik. Gagasan ini muncul setelah pemerintah mendorong pengujian laboratorium terhadap potensi pati tanaman lokal sebagai material pendukung pemadaman api. Namun, muncul pertanyaan besar di tengah masyarakat, apakah tepung benar-benar bisa menjadi solusi yang efektif untuk memadamkan karhutla di Kalimantan?

Masyarakat sempat membayangkan bahwa tepung singkong mentah akan langsung dijatuhkan dari helikopter dalam bentuk serbuk kering. Namun, para peneliti kimia molekuler dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan penjelasan agar tidak terjadi miskonsepsi. Menabur serbuk tepung kering langsung di atas permukaan api justru berbahaya karena berisiko memicu ledakan debu (dust explosion) akibat partikel organik kering yang terpapar panas secara mendadak. Dalam teknologi yang dikembangkan BRIN (dinamakan formulasi CASSA-P), pati singkong diolah dan dicampur dengan bahan kimia pendukung:

  • Pati singkong termodifikasi yang berfungsi sebagai perekat alami. Bahan ini membuat cairan pemadam menjadi lebih kental sehingga menempel lebih lama pada daun dan ranting pohon tanpa cepat menetes hilang.

  • Zat pembasah (wetting agent) yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan air agar cairan bisa meresap masuk ke pori-pori vegetasi yang kering.

  • Senyawa fosfat (ammonium polyphosphate) yang ketika saat terkena panas, bahan ini membentuk lapisan karbon pelindung yang menghambat udara kontak langsung dengan api.

Ramuan retardan cair ini sangat efektif untuk memadamkan api di permukaan, menahan laju perambatan api di rumput kering, serta mengatasi titik api baru. Namun, jenis tanah gambut seperti di Kalimantan butuh usaha lebih dalam penanganan jangka panjang, tidak hanya mengatasi kebakaran di permukaan saja, tapi juga melakukan penanganan kekeringan di kedalaman tanah.

Akar masalah utama karhutla di Kalimantan adalah pembangunan kanal-kanal drainase buatan pada kawasan Kesatuan Hidrologi Gambut (KHG) dan Kubah Gambut (Peat Dome). Kubah gambut yang seharusnya menjadi "menara penyimpan air alami" dikuras airnya keluar menuju sungai. Ketika air ditiriskan dari gambut, matriks organik di dalam tanah mengalami kekeringan ekstrem.

Gambut yang mengering mengalami perubahan sifat fisikokimia menjadi hidrofobik atau menolak air. Saat kondisi ini tercapai, gambut tidak lagi bisa menyerap air dengan mudah dan berubah menjadi hamparan bahan bakar padat yang sangat mudah tersulut. Saat tersulut, baik akibat gesekan cuaca maupun aktivitas pembukaan lahan, api di lahan gambut tidak hanya menyala di permukaan.

Api merambat secara perlahan tanpa nyala di dalam tanah (smouldering) pada kedalaman puluhan sentimeter hingga meteran. Bara bawah tanah ini terlindung dari siraman air dari udara. Penyiraman helikopter (water bombing) atau penyemprotan retardan cair dari atas sering kali hanya memadamkan api permukaan. Di dalam tanah, bara api tetap hidup dan bisa kembali ke permukaan menjadi kobaran baru saat angin berembus pekat.

Pemadaman melalui udara maupun penggunaan retardan inovatif seperti CASSA-P adalah langkah tanggap darurat yang penting untuk memutus laju perambatan api di permukaan. Namun, sains geologi lingkungan menegaskan bahwa solusi jangka panjang karhutla ada pada penataan hidrologi di darat yang telah dipetakan oleh Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) melalui strategi 3R:

  1. Rewetting (Pembasahan Kembali), yaitu menutup dan menyekat kembali kanal-kanal drainase yang membelah kawasan gambut. Pembangunan sekat kanal berfungsi menahan laju aliran air agar tidak terbuang, sehingga Muka Air Tanah (MAT) tetap terangkat jenuh. Pemerintah mematok aturan ketat yang mana tinggi muka air tanah gambut tidak boleh turun lebih dari -0,4 meter dari permukaan tanah. Jika muka air tanah dijaga berada di atas batas ini, gambut tetap basah dan api bawah tanah tidak akan pernah bisa menyala.

  2. Revegetation (Penanaman Kembali), yaitu melakukan penanaman kembali pohon-pohon lokal rawa gambut seperti Belangeran (Shorea belangeran) dan Jelutung Rawa (Dyera polyphylla). Pohon-pohon ini berfungsi membangun kembali tutupan kanopi alami yang menaungi permukaan tanah, menekan suhu microclimate, dan menahan laju penguapan air.

  3. Revitalization (Revitalisasi Ekonomi Lokal), memberdayakan masyarakat desa di sekitar kawasan gambut melalui mata pencaharian ramah lahan basah (peat-friendly livelihoods). Contohnya adalah budidaya perikanan air hitam, pemanfaatan tanaman purun untuk kerajinan, dan ekowisata, sehingga warga tidak perlu lagi mengeringkan atau membakar lahan untuk bercocok tanam.

Secara objektif, formulasi retardan cair dari tepung adalah alat bantu operasional yang sangat baik untuk mempercepat pemadaman api di permukaan. Namun, sebagai upaya pencegahan jangka panjang, kunci utamanya tetap terletak pada pemulihan ekosistem. Dengan memastikan sekat kanal berfungsi dengan baik dan menjaga muka air tanah gambut tidak melampaui batas kritis -0,4 meter, agar spons alami Kalimantan tetap basah, sehingga api tidak memiliki kesempatan untuk menyala sejak awal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....