Renungan "Aja Rumangsa Bisa" Mewarnai Siaran Batik Hindu Pro 4 RRI Yogyakarta
- 30 Agt 2026 10:26 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta-Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul, I Gede Suwardana, S.Ag., membagikan renungan tentang kerendahan hati dalam rekaman program acara Batik Hindu di Pro 4 RRI Yogyakarta, Kamis 27 Agustus 2026 saat sesudah rekaman.
Mengangkat ungkapan Jawa yang penuh makna, "Aja rumangsa bisa, bisao rumangsa" (Jangan merasa bisa, tetapi bisalah merasa), Gede Suwardana mengajak pendengar untuk terus memelihara sifat rendah hati dan mengikis keangkuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam siaran tersebut, Gede Suwardana mengawali renungannya dengan cerita personal yang humanis. Di tengah kemeriahan peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di kantornya, ia harus membatasi diri akibat cedera lutut yang dialaminya. Kendati hanya bisa menjadi penonton saat lomba dan sempat kesulitan saat berlatih lagu hiburan bersama rekan-rekan penyuluh agama lain, momen tersebut justru menjadi titik balik perenungan mendalam baginya.
"Pengalaman fisik yang terbatas ini mengingatkan saya bahwa manusia memiliki keterbatasan. Jangan merasa paling bisa, karena kesombongan justru menutup cahaya kebenaran dan ilmu pengetahuan," ujar Gede Suwardana.
Ia menjelaskan bahwa ajaran kerendahan hati ini selaras dengan berbagai kitab suci dan sastra Hindu:
- Bhagawad Gita 13.8: Mengajarkan bahwa pengetahuan sejati berawal dari kerendahan hati, tidak sombong, sederhana, dan bebas dari keangkuhan.
- Manawa Dharma Sastra 2.132: Menekankan pentingnya melihat setiap makhluk secara rohani tanpa membeda-bedakan status material.
- Katha Upanisad 1.2.23: Menyebutkan bahwa kebenaran sejati (Atman) diraih bukan lewat banyaknya bicara atau kecerdasan semata, melainkan oleh mereka yang rendah hati dan dipilih oleh Tuhan.
- Canakya Niti Sastra & Sarasamuscaya: Mengibaratkan kerendahan hati sebagai perhiasan utama kehidupan yang membawa kehormatan, kebahagiaan, serta membuka pintu anugerah.
I Gede Suwardana berpesan agar masyarakat tidak mengartikan kerendahan hati sebagai bentuk merendahkan diri sendiri, melainkan sebagai kesadaran atas keterbatasan manusia di hadapan keagungan Tuhan.
"Jadilah seperti bumi, yang semakin diinjak justru semakin memberikan manfaat bagi kehidupan di atasnya. Kerendahan hati bukanlah menandakan kita bukan siapa-siapa, melainkan menyadari bahwa segala hal yang kita miliki adalah anugerah dari Sang Pencipta," katanya.
Siaran Batik Hindu ini diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi spiritual dan memperkuat keharmonisan serta kebersamaan antarumat beragama di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....