Amar Makruf Nahi Mungkar dan Investasi Ilmu yang Bermanfaat

  • 26 Agt 2026 13:05 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Amar makruf nahi mungkar merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran pada dasarnya merupakan fardhu kifayah, namun dalam kondisi tertentu dapat menjadi fardhu ‘ain, khususnya bagi seseorang yang melihat kemungkaran dan memiliki kemampuan untuk mencegahnya.

Dalam sebuah penjelasan, disampaikan bahwa ketika seseorang melihat kemungkaran, maka ia memiliki tanggung jawab untuk berusaha mencegahnya sesuai dengan kemampuannya. Ada yang mampu mencegah dengan kekuasaan (power), kewenangan, atau kebijakan. Namun, ketika seseorang tidak memiliki kewenangan tersebut, maka setidaknya ia dapat mencegah dengan lisan, yaitu memberikan nasihat dan mengingatkan dengan cara yang baik dan bijaksana. Inilah salah satu bentuk tanggung jawab dalam amar makruf nahi mungkar.

Ilmu yang Bermanfaat sebagai Investasi Kebaikan

Menjawab pertanyaan Ibu Siti di Acara Mutiara Pagi mengenai ilmu yang bermanfaat, Ustaz Dr. Ganang Prihatmoko, M.A., yang merupakan Wakil Direktur Rumuz For Islamic School Managers memberikan gambaran bahwa ilmu yang diajarkan kepada orang lain merupakan salah satu bentuk investasi kebaikan yang pahalanya terus mengalir.

Contohnya adalah seorang guru yang setiap hari mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya. Demikian pula orang yang setiap pagi mengajarkan Al-Qur’an, memberikan sedekah ilmu, atau membimbing orang lain menuju kebaikan. Orang-orang seperti inilah yang seharusnya kita dukung, hormati, dan jadikan teladan, karena apa yang mereka ajarkan dapat menjadi investasi kebaikan yang terus memberikan manfaat.

Ilmu yang bermanfaat bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang kita miliki, tetapi seberapa besar ilmu tersebut memberikan manfaat bagi orang lain. Ketika ilmu diamalkan dan diajarkan kembali, kebaikannya dapat terus berkembang dari satu orang kepada orang lainnya.

Setiap Perbuatan Dicatat oleh Allah

Orientasi utama seorang Muslim dalam berbuat kebaikan hendaknya bukan semata-mata mencari pengakuan atau tanggapan manusia. Setiap perbuatan kita senantiasa dicatat oleh Allah SWT.

Oleh karena itu, ketika kita telah berusaha melakukan kebaikan tetapi belum mendapatkan tanggapan, apresiasi, atau perubahan yang terlihat, janganlah berhenti. Kebaikan tersebut tetap bernilai ibadah di sisi Allah. Tugas kita adalah terus memperbaiki kualitas ibadah, memperbaiki niat, melakukan kebaikan dengan ikhlas, dan senantiasa mengharapkan keridhaan Allah SWT.

Jangan sampai ukuran keberhasilan kita dalam berbuat baik hanya ditentukan oleh respons manusia. Bisa jadi kebaikan yang menurut kita kecil justru memiliki nilai besar di sisi Allah.

Sebagaimana pesan Rasulullah SAW dalam hadis, jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Karena tidak ada kebaikan yang sia-sia apabila dilakukan dengan ikhlas karena Allah.

Maka, mari terus menebarkan kebaikan, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, mengajak kepada yang makruf, dan berusaha mencegah kemungkaran sesuai dengan kemampuan kita. Sebab setiap ilmu yang diajarkan, setiap nasihat yang disampaikan, dan setiap kebaikan yang dilakukan dapat menjadi investasi amal yang akan kita temui kembali di hadapan Allah SWT. (Rh)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....