Mengenal Doom Spending: Bahaya Belanja Impulsif Akibat Stres Finansial

  • 11 Agt 2026 11:39 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Fenomena doom spending kini semakin menyita perhatian di tengah maraknya ketidakpastian ekonomi global. Perilaku ini merujuk pada kebiasaan seseorang menghabiskan uang secara impulsif untuk barang-barang non-esensial sebagai bentuk pelarian dari rasa stres alih-alih menabung demi masa depan.

Mengutip laman resmi Treasury, terdapat perbedaan mendasar antara impulsive buying dan doom spending. Impulsive buying merupakan pembelian barang tanpa rencana yang didorong oleh keinginan sesaat atau godaan potongan harga. Sementara itu, doom spending merupakan bentuk belanja impulsif yang dipicu oleh rasa cemas, stres, serta keputusasaan terhadap ketidakpastian masa depan ekonomi.

Di media sosial, banyak anak muda membagikan kisah tentang pembelian barang mewah atau keputusan liburan spontan demi meredakan kecemasan. Tren ini mencerminkan adanya pergeseran psikologis masyarakat dalam memandang stabilitas finansial tradisional.

Faktor utama pendorong doom spending adalah rasa putus asa terhadap pencapaian finansial konvensional, seperti kepemilikan rumah. Lonjakan harga properti dan kenaikan biaya hidup membuat impian memiliki hunian terasa kian sulit dijangkau, sehingga generasi muda cenderung memilih kepuasan instan melalui belanja yang memberikan sensasi kepuasan sesaat.

Dampak psikologis dari kebiasaan belanja ini pada dasarnya hanya bersifat sementara dan justru berisiko memperburuk kesehatan mental. Setelah sensasi senang usai berbelanja mereda, muncul rasa bersalah dan penyesalan mendalam. Siklus berulang ini memicu tingkat stres yang lebih tinggi dan mendorong seseorang kembali berbelanja demi meredakan kecemasan tersebut.

Secara finansial, kebiasaan ini berpotensi menjadi ancaman serius bagi ketahanan dompet dalam jangka panjang. Dana darurat yang seharusnya disiapkan untuk situasi krisis dapat terkuras habis, menjadikan pelakunya makin rentan menghadapi guncangan ekonomi.

Paparan gaya hidup mewah di media sosial serta budaya konsumerisme modern turut memperparah fenomena ini. Algoritma media sosial kerap dirancang untuk mendorong pengguna terus membeli berbagai produk yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Peningkatan literasi keuangan dan kesadaran akan kesehatan mental perlu terus digalakkan untuk membentengi generasi muda. Upaya mengubah pola pikir dari kepuasan instan menuju investasi masa depan memerlukan proses adaptasi yang konsisten serta dukungan lingkungan yang kondusif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....