Membongkar Mitos Makanan Sehat Murah versus Mahal
- 09 Jul 2026 21:45 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Mitos bahwa makanan sehat itu mahal sering kali membuat orang enggan memulai gaya hidup lebih baik. Banyak yang mengira makanan bergizi hanya bisa ditemukan di rak produk organik atau buah impor berharga tinggi. Padahal, bahan pangan lokal yang murah sering kali memiliki kandungan nutrisi yang sama.
Laman www.nutritionletter.tufts.edu menyebutkan bahwa buah impor seperti beri dan apel premium lebih sehat daripada buah lokal adalah kekeliruan besar. Buah-buahan lokal seperti pisang, pepaya, dan semangka justru kaya akan vitamin serta enzim pencernaan alami serta tidak melewati proses distribusi antarnegara yang panjang.
Salmon dan daging sapi premium sering kali dianggap sebagai satu-satunya sumber protein terbaik. Kenyataannya, sumber protein nabati seperti tahu, tempe, dan kacang-kacangan menawarkan manfaat yang tidak kalah hebat untuk kesehatan jantung.
Susu almon dan susu oat kemasan saat ini menjadi tren minuman sehat yang harganya cukup menguras dompet. Banyak orang lupa bahwa susu sapi biasa atau bahkan air kelapa murni memberikan hidrasi dan nutrisi yang sangat melimpah asal tanpa tambahan gula buatan.
Sayuran organik dengan label khusus sering kali dijual dengan harga berkali-kali lipat dari sayuran biasa. Padahal, kandungan nutrisi utama pada sayuran biasa di pasar tradisional secara umum tetap sama. Anda hanya perlu mencuci sayur biasa dengan bersih di bawah air mengalir untuk menghilangkan sisa pestisida.
Karbohidrat juga sering menjadi korban mitos diet mewah, seperti keharusan mengonsumsi beras merah organik atau quinoa. Jagung, ubi jalar, dan singkong adalah sumber karbohidrat kompleks lokal yang harganya sangat murah dan tinggi serat.
Minyak zaitun ekstra murni memang sehat, tetapi menggunakannya untuk segala jenis masakan bukanlah keharusan. Untuk menumis sehari-hari, gunakan minyak kelapa atau minyak sawit biasa. Kunci kesehatan terletak pada metode memasak yang tidak berlebihan, seperti mengukus atau merebus makanan.
Pola makan sehat tidak ditentukan seberapa mahal melainkan kreativitas dalam memilih bahan. Tubuh hanya membutuhkan zat gizi makro dan mikro yang seimbang, bukan merek atau gengsi dari makanan tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....