FOMO vs JOMO: Menemukan Kedamaian dalam Ketertinggalan

  • 07 Jul 2026 10:11 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Di era digital yang serba cepat, media sosial sering kali menjadi panggung pamer yang tampak sempurna. Fenomena ini memicu lahirnya Fear of Missing Out atau FOMO, perasaan cemas ketika melihat orang lain bersenang-senang tanpa kehadiran kita. Akibatnya, banyak orang merasa terjebak dalam perlombaan tanpa akhir untuk selalu memperbarui status dan mengikuti tren terbaru.

Laman www.fas-fulfillment.com menyebutkan rasa takut tertinggal ini secara perlahan mengikis kesehatan mental dan kedamaian batin. Kita sibuk membandingkan kehidupan nyata yang biasa saja dengan potret sukses orang lain di layar kaca sehingga memicu kelelahan kronis karena energi habis terkuras untuk mengejar validasi semu di dunia maya.

Namun, belakangan ini muncul gerakan tandingan yaitu Joy of Missing Out atau JOMO. Konsep ini mengajak kita untuk merayakan momen ketika tidak ikut serta dalam hiruk-pikuk dunia luar. JOMO memberikan ruang bagi jiwa kita untuk beristirahat tanpa merasa bersalah karena tertinggal dari orang lain.

Menemukan kedamaian dalam ketertinggalan sebenarnya adalah tentang bagaimana menetapkan skala prioritas hidup secara bijak. Saat kita memilih JOMO, fokus perhatian secara otomatis akan beralih dari kehidupan orang lain menuju pertumbuhan diri sendiri yang tidak lagi diatur oleh algoritma internet.

Praktik JOMO bisa dimulai dengan hal-hal sederhana, seperti mematikan notifikasi ponsel selama beberapa jam di akhir pekan. Waktu luang yang tercipta tersebut, digunakan untuk menikmati hobi lama atau sekadar melamun tanpa gangguan.

Ada perbedaan mendasar tingkat kebahagiaan yang dihasilkan oleh penganut FOMO dan JOMO. FOMO melahirkan rasa haus yang tidak pernah terpuaskan karena standar yang ditentukan keberhasilan orang lain. Sebaliknya, JOMO menawarkan kepuasan stabil karena bersumber dari rasa syukur atas pencapaian diri.

Menerapkan JOMO bukan berarti kita harus mengisolasi diri secara total dari lingkungan sosial atau antisosial. Kita lebih selektif dalam menginvestasikan waktu dan energi demi menjaga kewarasan mental sendiri.

Seni menjalani hidup di zaman modern adalah tentang berani melepas apa yang tidak esensial bagi kita. Kedamaian sejati justru ditemukan saat mampu tersenyum sambil berkata, "Saya tidak keberatan tertinggal."

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....