Kurangi Kebakaran Lahan Gambut, Dosen UMY Sebut Cara ini

  • 22 Jun 2026 16:14 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Pakar Kebijakan Lingkungan UMY, Rijal Ramdani menemukan penyebab ribuan titik kebakaran lahan gambut di Provinsi Riau. Ribuan lokasi itu, berada di Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu.

Namun ia menyebut, kebakaran gambut di kawasan tersebut bukan semata-mata akibat faktor alam. Konsekuensi dari konflik tata kelola air antara masyarakat dan perusahaan yang beroperasi di lahan gambut, juga jadi penyebabnya.

Rijal Ramdani memaparkan temuan lapangan tersebut, dalam seminar internasional UMY Summer School 2026. Kegiatan ilmiah itu, berlangsung di Yogyakarta belum lama ini.

Dari hasil riset yang ia lakukan, perusahaan kehutanan dan perkebunan yang beroperasi di wilayah konsesi, membangun ribuan kanal di kawasan gambut seluas sekitar 32.000 hektare. Saat kemarau, pintu kanal ditutup untuk menjaga muka air di area konsesi.

Sementara saat musim hujan, pintu kanal dibuka untuk mengurangi genangan. Kondisi tersebut menyebabkan lahan masyarakat menjadi kering dan rentan terbakar saat musim kemarau, serta mengalami banjir pada musim penghujan.

“Sebelum intervensi dilakukan, jumlah hotspot mencapai lebih dari 5.000 titik,” katanya, Senin, 22 Juni 2026. ”Kebakaran gambut mulai sering terjadi, semenjak perusahaan membangun ratusan kanal di wilayah konsesinya.”

Hasil risetnya juga menunjukkan, akar persoalan bersifat teknis sekaligus relasional. Masyarakat tidak mempercayai perusahaan, dan sebaliknya perusahaan tidak mempercayai masyarakat maupun pemerintah.

Sementara, pemerintah daerah memiliki keterbatasan otoritas untuk menjembatani konflik tersebut. Dalam situasi ketidakpercayaan yang berlapis itu, berbagai upaya penyelesaian konflik dan mitigasi kebakaran tidak berjalan efektif.

Titik balik terjadi pada 2018 ketika Tropical Peatland Society Project (TPSP) hadir sebagai fasilitator netral. TPSP merupakan konsorsium yang melibatkan perguruan tinggi lokal, Universitas Kyoto, Badan Restorasi Gambut Indonesia, serta didukung oleh Japan Partnership Program.

Berbeda dengan berbagai upaya sebelumnya, TPSP berhasil membangun kepercayaan dari kedua belah pihak. Perusahaan bersedia mengalirkan air ke wilayah desa selama musim kemarau, sementara masyarakat dan perusahaan bersama-sama membangun canal block untuk merehabilitasi lahan gambut yang terdegradasi.

”Setelah kolaborasi tersebut berjalan, jumlah titik panas mengalami penurunan secara signifikan,” katanya. ”Mitigasi kebakaran gambut butuh rekayasa kepercayaan sosial.”

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....