Pameran Tidal Weavers: Island Exchange Hadirkan Sejarah Tekstil
- 21 Jun 2026 10:48 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Pameran seni Tidal Weavers: Island Exchange digelar di Ace House Collective Langgeng Art Foundation pada 19-24 Juni 2026 ini. Pameran ini mengangkat cerita dari selembar kain dari berbagai negara.
Di balik serat-serat kain, tersimpan sejumlah sejarah perpindahan manusia, perdagangan, ritual, pengetahuan lokal, hingga hubungan sosial yang berkembang di kawasan maritim. Pengunjung bisa menelusuri hubungan antara air, testil, dan kehidupan masyarakat pesisir serta kepualaun di Asia.
Rangkaian pameran ini menjadi penutup perjalanan internasional proyek Tidal Weavers setelah sebelumnya digelar di Hong Kong dan Taipei.
Seniman sekaligus inisiator proyek, Ade Darmawan, menjelaskan bahwa Tidal Weavers berawal dari ketertarikannya meneliti pengetahuan masyarakat tentang air, pulau, dan kawasan pesisir.
Gagasan tersebut kemudian berkembang setelah berdiskusi dengan Takahashi Mizuki, Direktur dan Kurator CHAT (Centre for Heritage, Arts and Textile) Hong Kong.
"Kami melihat tenun, kain, dan motif bukan hanya sebagai benda budaya. Kain juga menyimpan pengalaman, pengetahuan, dan kebijaksanaan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi," ujar Ade, pada Jumat, 19 Juni 2026 saat pembukaan.
Menurutnya, proyek ini tidak sekadar mengundang seniman untuk membuat karya. Tidal Weavers mendorong seniman bekerja langsung bersama komunitas, penenun, dan kelompok budaya di berbagai wilayah.
"Kami menekankan proses percakapan dan pertukaran pengetahuan antara seniman dan komunitas. Kain kami lihat sebagai arsip hidup atau museum yang terus bergerak," katanya.
Takahashi Mizuki mengatakan, CHAT menempati bekas pabrik pemintalan kapas di Hong Kong. Karena itu, lembaganya memiliki perhatian besar terhadap sejarah industri tekstil dan warisan budaya yang menyertainya.
Ia menilai banyak tekstil tradisional Asia menyimpan keterampilan, teknologi, dan cerita yang luar biasa. Namun, keberlanjutan tradisi tersebut menghadapi tantangan karena semakin sedikit masyarakat yang menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
"Jika tidak ada pengguna, bagaimana tekstil bisa bertahan? Karena itu kami mencoba menghadirkan pendekatan baru agar warisan tekstil tetap relevan dengan kehidupan masa kini," ujarnya.
Selain menampilkan karya seni, edisi Yogyakarta juga menghadirkan Tidal Weavers Resource Room yang dikembangkan bersama Lawe Indonesia dan IVAA Contemporary Art Studies. Ruang ini memperluas pemahaman publik tentang tekstil sebagai media produksi pengetahuan, penyimpan memori kolektif, dan pembentuk relasi sosial.
Melalui pameran ini, penyelenggara mengajak masyarakat melihat tekstil tidak sekadar sebagai produk kerajinan atau benda dekoratif. Kain dan tenun juga menjadi arsip hidup yang merekam perjalanan manusia, pertukaran budaya, serta hubungan antarkomunitas di kawasan Asia.
Di tempat yang sama juga digelar pameran Salon et Cetera yang berlangsung akan berlangsung hingga 24 Juli 2026 mendatang. Sejumlah karya seperti lukisan, foto, dan lainnya dipajang di salah satu ruang galeri Langger Art Foundation.
Pameran kolaborasi Ace House Collective dan Equator Art Projects ini mengadopsi konsep pameran salon yang populer di Eropa pada abad ke-18. Sebayak 180 karya dari 140 seniman asal Indonesia, Thailand, dan Filipina dipajang secara padat tanpa banyak ruang kosong. Sehingga menghasilkan pameran karya yang berbeda dari umumnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....