Pekerjaan Tak Selalu Menentukan Nilai Diri Seseorang
- 17 Jun 2026 13:52 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Banyak anak muda merasa kecewa ketika pekerjaan yang dijalani tidak sesuai dengan jurusan kuliah, target karier, maupun harapan yang telah direncanakan sejak lama. Kondisi tersebut kerap memunculkan perasaan tertinggal dari teman sebaya, meragukan kemampuan diri, hingga mengalami fenomena yang dikenal sebagai quarter-life crisis.
Psikolog dari Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, S.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa pekerjaan yang dimiliki seseorang saat ini tidak selalu mencerminkan identitas dirinya secara utuh. Menurutnya, pekerjaan pada dasarnya merupakan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidup dan bukan satu-satunya penentu nilai seseorang.
Danti menilai banyak lulusan muda yang tanpa sadar menjadikan pekerjaan sebagai tolok ukur utama harga diri. Akibatnya, ketika pekerjaan yang diperoleh tidak sesuai ekspektasi, mereka menganggap dirinya gagal. Padahal, identitas individu dibentuk oleh banyak aspek kehidupan, bukan hanya jabatan, posisi, atau tempat bekerja. “Pekerjaan yang kita jalani saat ini tidak selalu menggambarkan siapa diri kita secara keseluruhan. Nilai diri seseorang jauh lebih luas daripada profesi yang sedang dijalani,” ujarnya.
Menurut Danti, persoalan mulai muncul ketika seseorang mengaitkan seluruh harga dirinya dengan karier. Situasi tersebut dapat semakin berat ketika individu terus membandingkan pencapaiannya dengan orang lain melalui media sosial, terutama di tengah persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif. Kebiasaan membandingkan diri ini sering kali memicu kecemasan dan menurunkan rasa percaya diri.
Ia menjelaskan bahwa perasaan kehilangan arah juga dapat muncul ketika seseorang hanya berfokus pada pekerjaan, sementara kebutuhan untuk berkembang dan mengaktualisasikan diri di bidang lain tidak terpenuhi. Karena itu, Danti menyarankan generasi muda untuk tetap mengembangkan minat dan kemampuan di luar pekerjaan utama, seperti mengikuti komunitas, mengambil kursus, atau mengerjakan proyek sampingan. “Aktivitas di luar pekerjaan dapat menjadi ruang untuk bertumbuh, menemukan potensi diri, sekaligus menjaga kesehatan mental,” katanya.
Selain itu, Danti mengingatkan pentingnya memusatkan perhatian pada hal-hal yang masih dapat dikendalikan, seperti meningkatkan keterampilan, memperluas jaringan profesional, memperbarui portofolio, serta menjaga kesehatan fisik dan mental. Menurutnya, memahami bahwa pekerjaan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan hidup dapat membantu generasi muda menjalani proses karier dengan lebih tenang, realistis, dan tidak terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....