Seribu Cahaya Fatayat Gamping Semarakkan Malam Takbiran

  • 29 Mei 2026 06:22 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman - Malam takbiran Iduladha 1447 Hijriah di Lapangan Nur Iman Mlangi, Kapanewon Gamping, Kamis 28 Mei 2026, berlangsung meriah dan penuh cahaya. Ratusan warga memadati area lapangan untuk menyaksikan iring-iringan takbir keliling yang digelar Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) bersama badan otonom Nahdlatul Ulama setempat.

Kegiatan bertajuk “Fatayat Gamping Bertakbir Satu Malam Seribu Cahaya” itu menghadirkan konsep berbeda dibanding tahun sebelumnya. Panitia menggunakan kereta mini atau odong-odong sebagai ikon utama dalam pawai takbir keliling yang melintasi sejumlah wilayah di Gamping hingga Mlati.

Kompak, meriah, dan penuh makna. Ratusan jamaah Fatayat NU Gamping ramaikan malam takbiran dengan “Satu Malam Seribu Cahaya”. (Foto: Istimewa)

Sorotan lampu warna-warni yang menghiasi sembilan kereta mini membuat suasana malam Iduladha semakin semarak. Setiap kendaraan dipenuhi jamaah yang melantunkan takbir, tahmid, dan tahlil sepanjang perjalanan sambil disambut antusias warga di tepi jalan.

Ketua Panitia Gema Takbir Keliling, Shobiroh Zulfa Kurniyawati atau Nia, mengatakan konsep tahun ini sengaja dirancang lebih kreatif namun tetap mengutamakan ketertiban dan kenyamanan masyarakat. Menurutnya, penggunaan kereta mini menjadi solusi agar kegiatan berjalan aman tanpa menimbulkan kemacetan berlebih. “Untuk tahun ini kita mengambil tema Fatayat Gamping Bertakbir, Satu Malam Seribu Cahaya. Kita mengambil inovasi menggunakan kereta mini karena kita menganggap itu lebih ramah, lebih tertib, dan tidak menimbulkan banyak kemacetan,” ujarnya.

Naik kereta mini sambil bertakbir, malam Iduladha di Gamping terasa lebih hangat, ceria, dan penuh kebersamaan. (Foto: Istimewa)

Nia menjelaskan, penggunaan kereta mini bukan sekadar hiburan semata, melainkan bagian dari syiar Islam yang dikemas lebih menarik dan dekat dengan masyarakat. Konsep tersebut dinilai mampu merangkul seluruh kalangan, mulai anak-anak hingga lansia. “Selain syiarnya lebih luas, di sini bisa merangkul semua kalangan, baik dari usia anak-anak, remaja, maupun dewasa dan lansia,” katanya.

Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi. Sekitar 400 peserta turut ambil bagian dalam takbir keliling tersebut. Masing-masing kereta diisi sekitar 45 jamaah yang tampil kompak mengenakan busana muslimah seragam sambil membawa lampu hias berbagai warna.

Takbir keliling bukan sekadar tradisi, tapi juga syiar penuh kebersamaan yang menghangatkan malam Iduladha di Gamping. (Foto: Istimewa)

Tak sedikit warga yang keluar rumah untuk menyaksikan langsung iring-iringan tersebut. Banyak di antaranya mengabadikan momen menggunakan telepon genggam karena tertarik dengan kemeriahan cahaya dan kekompakan peserta yang melintas di jalan-jalan kawasan Gamping.

Rois MWC NU Kapanewon Gamping, Ahmad Mabarrun, menegaskan bahwa kegiatan itu merupakan bagian dari dakwah Islam dan syiar Nahdlatul Ulama kepada masyarakat. Ia menilai malam Laylatul Iduladha menjadi momentum penting untuk menggemakan takbir dan memperkuat semangat keislaman warga. “Tujuannya memang untuk mensyiarkan agama Islam. Ini bagian dari Badan Otonom Nahdlatul Ulama, salah satu program dan kegiatannya adalah syiar agama Islam,” ucapnya.

Menurut Ahmad Mabarrun, mayoritas peserta berasal dari wilayah Nogotirto dan Mlangi yang dikenal sebagai kawasan pondok pesantren. Ia menyebut penggunaan kereta mini memudahkan peserta menjangkau rute panjang hingga kawasan Mlati. Di akhir kegiatan, panitia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh donatur, aparat, dan masyarakat yang telah mendukung suksesnya acara.

Namun, Fatayat NU Gamping memberi sinyal bahwa tradisi takbir keliling kemungkinan tidak lagi digelar tahun depan karena fokus organisasi akan diarahkan pada agenda Konfercab dan penguatan kader baru.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....