Tradisi yang Masih Lestari hingga Kini
- 03 Mei 2026 10:36 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – LPP RRI Programa 4 RRI Yogyakarta dalam program siaran suara budaya nusantara budaya lokal membahas tema tradisi. Suara budaya nusantara budaya lokal pada hari Jumat 1 Mei 2026 mengajak masyarakat untuk menceritakan tradisi yang ada di sekitar tempat tinggal.
Tradisi yang masih terus menerus dilakukan di masyarakat. Banyak pendengar yang membagikan cerita-cerita tentang tradisi yang masih ada di Yogyakarta dan sekitarnya. Tradisi adalah adat kebiasaan yang dijalankan oleh masyarakat. Nilai-nilai dari tradisi yang diwariskan turun temurun.
Selain itu, Mbah Mulyo juga mengatakan tradisi yang ada di Yogyakarta adalah grebeg, sekaten, ngabekten dan labuhan. Pak Joko Kadilobo mengatakan tradisi kenduren setelah pemakaman jenazah. “Tradisi ingkang dipun uri-uri kenduri, maulud, suro, merti dusun, wiwitan (agenda tahunan), sholawatan dan gejok lesung,” katanya.
Warga Karangmojo Triwahyudiati mengatakan bersih desa masih menjadi tradisi sampai sekarang. “Panggenan kulo taksih wonten, bersih desa, sedekah mbelik, ruwatan dan sanes-sanesipun,” katanya.
Warga Samigaluh Kabupaten Kulon Progo Untung mengatakan tradisi malem tiga suro ruwatan dusun. “Acara masyarakat kumpul doa bersama dan dilanjutkan genduri bersama,” katanya.
KRT Hadi Projokusumo Pengasih Kulon Progo mengatakan tradisi yang masih dilakukan warga di musholla. “Sedekah sasi seperti suran, muludan, selikuran pelaksanaannya kepungan di musala,” katanya.
Pendengar Pro4 RRI Yogyakarta Saginem mengatakan tradisi ruwahan, merti desa, rasulan, ada pengajian dan campursari. “Kalau hamil 7 bulan itu ada tradisi 7 bulan, malam minggu ketoprak, minggu siang ada gunungan, tayuban, dhoger, reog, malem seni dan masih ada wayang semalam suntuk,” katanya.
Pendengar lainnya adalah Nini Tiwuk mengatakan tradisi yang masih ada di Yogyakarta adalah grebeg. “Dalam rangka hari raya seperti idul fitri dan idul adha dan mubeng beteng dalam rangka menyambut tahun baru Jawa yang dikenal dengan malem 1 sura,” katanya.
Mas Suyanto Pundhong mengatakan ritual dan upacara adat di Yogyakarta yang masih lestari. “Mempertahankan identitas sebagai pusat budaya Jawa antara lain, merti dusun dan upacara penyembelihan bekakak,” ujarnya.
Selain itu, terdapat upacara sekaten dan grebeg sekaten, grebeg maulud syawal, besar. Ritual labuhan dilakukan untuk memohon keselamatan. Mubeng Beteng (malam 1 suro) dilakukan setiap malam pergantian tahun baru Jawa (1 Suro). Saparan bekakak penyembelihan sepasang boneka pengantin (bekakak) yang terbuat dari tepung ketan berisi juruh (gula merah cair) untuk memohon keselamatan.
Beragam tradisi masih lestari dan dipertahankan di Yogyakarta dan sekitarnya. Tradisi nyadran disebut juga ruwahan yang dilakukan menjelang bulan ramadan. Masyarakat yang mengunjungi makam leluhur untuk membersihkannya, berdoa dan diakhiri dengan makan bersama (kenduri).
Selain itu, tradisi jamasan pusaka untuk simbol pembersihan diri dari hal-hal negatif. Di kabupaten Bantul terdapat tradisi nguras enceh untuk membersihkan gentong suci yang berada di kompleks Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri.
Tradisi rebo pungkasan juga masih dilakukan oleh masyarakat dan diadakan di hari rabu terakhir di bulan Sapar di Wonokromo kabupaten Bantul. Tujuannya adalah untuk memperingati pertemuan antara Sri Sultan Hamengku I dengan Kyai Faqih Usman (seorang ulama).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....