Ledakan Ikan Sapu-sapu Jadi Indikator Air Sungai Tercemar

  • 30 Apr 2026 17:15 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Populasi ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) yang terus meningkat di berbagai perairan Indonesia menjadi perhatian serius. Spesies invasif ini bahkan diburu dan dimusnahkan karena dianggap mengganggu ekosistem, seperti pemusnahan 10 ton ikan sapu-sapu di Jakarta. Sebelumnya, penyebarannya juga tercatat di Sungai Kresek Kediri hingga Danau Limboto Gorontalo.

Dominasi ikan ini dinilai mengancam keberlangsungan ikan lokal dan merusak keseimbangan ekosistem. Guru Besar Bioteknologi Perikanan dan Kelautan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Alim Isnansetyo, menegaskan bahwa pengendalian populasi harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

“Penangkapan itu harus secara berkesinambungan, terus-menerus. Bukan satu tahun sekali, tapi mungkin satu bulan sekali agar populasi tidak kembali meledak,” ucapnya, Kamis, 30 April 2026.

Namun, ia mengingatkan bahwa penangkapan besar-besaran tidak akan efektif jika kondisi lingkungan tetap tercemar. Perbaikan kualitas air menjadi langkah utama agar ekosistem dapat pulih.

“Kita harus meningkatkan kualitas lingkungan yang kini tercemar. Tanpa perbaikan kualitas air, ikan-ikan asli tidak akan bisa bertahan, sementara sapu-sapu akan terus mendominasi karena tidak memiliki musuh atau predator alami dan tahan terhadap kualitas air yang buruk dan terkontaminasi,” ujarnya.

Selain itu, upaya pemulihan juga perlu diikuti dengan restocking atau penebaran kembali ikan endemik.

“Setelah lingkungan diperbaiki, introduksi kembali spesies menjadi kunci untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem,” ucapnya.

Dari sisi sosial, Alim menyoroti peran masyarakat dalam mencegah penyebaran ikan ini. Ia mengimbau agar penghobi tidak melepaskan ikan sapu-sapu ke perairan umum.

“Awalnya ikan ini berasal dari Amerika Selatan dan diperdagangkan untuk ikan hias. Ketika sudah besar, beberapa penghobi ikan hias ini melepas ke perairan umum atau mungkin tidak sengaja terlepas. Ini lah yang berbahaya, karena awal mula ikan ini bisa berkembang biak dengan masif di perairan sekitar,” katanya.

Ia juga mengingatkan risiko kesehatan jika ikan sapu-sapu dikonsumsi, mengingat habitatnya yang cenderung berada di perairan tercemar.

“Jangan mengonsumsi ikan sapu-sapu. Konsumsilah ikan yang memang dibudidayakan secara sengaja dengan cara budidaya yang baik. Biasanya ikan sapu-sapu hidup di perairan yang tercemar, risiko kontaminasi logam berat pada dagingnya sangat tinggi,” ujarnya.

Tak hanya itu, ikan dari perairan tercemar juga tidak disarankan untuk dimanfaatkan sebagai pakan atau pupuk.

“Harus diperhatikan mengenai prinsip kesejahteraan hewan yang kita pelihara, agar kita tidak memberikan pakan yang beracun kepada makhluk hidup lain,” katanya.

Sebagai langkah aman, ia merekomendasikan pemusnahan ikan dilakukan dengan cara dikubur atau dibakar menggunakan incinerator.

“Jika memang sudah terbukti tercemar, ikan hasil tangkapan sebaiknya dikubur atau dibakar menggunakan incinerator. Hal ini dilakukan agar residu berbahaya atau kontaminan pada ikan tidak mencemari lingkungan,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....