Kelompok Bermain Gantari Berkomitmen Terapkan Pendidikan Inklusif

  • 29 Apr 2026 10:47 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Kelompok Bermain atau KB Gantari terletak di Jalan Kaliurang km 13,5, tepatnya di dalam bangunan Pusat Rehabilitasi YAKKUM. “Kelompok Bermain ini didirikan tahun 2023 dimana peserta didiknya adalah penyandang disabilitas dan non disabilitas.” Ujar Sri Wahyuni selaku Kepala Sekolah KB Gantari kepada Pro 1 dalam Dialog Jogja Siang Ini Ruang Disabilitas beberapa hari lalu.

Yuni juga menyebutkan KB Gantari ada tiga kelas. Kelas pertama yaitu Kelas Bintang untuk anak usia 2-3 tahun. Kelas Bulan usia 3-4 tahun. Terakhir Kelas Matahari untuk usia 4-5 tahun.

Untuk mengoptimalkan pembelajaran, KB Gantari hanya menerima 10 orang siswa setiap kelasnya. Sehingga total ada 30 siswa di Kelompok Bermain ini. Jumlah antara peserta didik disabilitas dan non disabilitas berimbang.

Yuni menambahkan masing-masing kelas ada dua guru. Terdiri dari satu guru utama dan satu guru pendamping. Keunggulan program pendidikan di KB Gantari yaitu pembelajarannya yang adaptif, Disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan anak, Masing-masing anak mempunyai cara belajar yang berbeda, terutama bagi anak berkebutuhan khusus.

Program pembelajaran individual juga diterapkan untuk anak berkebutuhan khusus. KB Gantari ini mengajarkan dan membangun karakter anak untuk menerima perbedaan. Sehingga anak dari usia 2 tahun sudah menghargai perbedaan. Untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) juga terbiasa dengan anak-anak Non ABK.

Ada pula layanan deteksi dini tumbuh kembang ABK. Anggotanya adalah dokter dan konselor. Pembelajaran tidak hanya diberikan kepada anak tetapi juga kepada orangtua.Seperti konseling, parenting, bagaimana memberikan pola asuh yang baik untuk anak, bagaimana menerima kondisi anak yang ABK. Selain itu ada pula peningkatan kapasitas lainnya seperti bagaimana mendampingi belajar anak di rumah.

Dalam dialognya Yuni mengatakan untuk prestasi dan kejuaraan yang diperoleh dari Kelompok Bermain belum ada dikarenakan masih baru. Dirinya juga menyebutkan jika mengikuti kompetisi pasti kebanyakan diikuti anak-anak non disabilitas. Sementara sekolah ini adalah sekolah inklusif, dimana ada peserta didik disabilitas juga.

Yuni menilai prestasi yang cukup membanggakan adalah adanya interaksi secara sadar dari anak usia dini. Dengan keterlibatan mereka, mereka mau bermain dengan anak-anak yang kondisinya beragam. Ada autis, down syndrome, keterbatasan fisik, dan dengan pemakai kursi roda, Hal ini memiliki dampak positif juga kepada ABK. Mereka merasa senang dan lebih percaya diri karna diterima oleh anak-anak non disabilitas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....