Ibnu Abbas Sang Lautan Ilmu
- 21 Apr 2026 14:07 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Mempelajari Sejarah islam bukan sekadar mengetahui peristiwa masa lalu, tetapi untuk memetik hikmah luhur serta menumbuhkan rasa cinta dan syukur atas perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat dalam menyebarkan agama Islam. Hal tersebut dikatakan Ustadz Imron Rosyadi, S.Ag Dalam program acara siraman Rohani Islam RRI Yogyakarta. Ustadz imron mengatakan Salah satu sosok sahabat rosululloh yakni Abdullah bin Abbas, atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Abbas.
Ibnu Abbas merupakan salah satu sahabat Nabi yang paling masyhur, terutama dalam bidang tafsir Al-Qur'an. Karena kedalaman ilmunya, beliau mendapat julukan Turjumanul Qur’an atau Penerjemah Al-Qur’an dan Habrul Ummah yakni Ulama umat. Karena itu Ibnu Abbas sebagai tokoh sentral dalam bidang tafsir Al-Qur'an. Kepiawaiannya dalam menjelaskan makna ayat-ayat suci menjadikannya referensi primer yang banyak dikutip dalam kitab-kitab tafsir besar, seperti Tafsir Ath-Thabari.
Beliau lahir sekitar tiga tahun sebelum peristiwa Hijrah di Makkah, Ibnu Abbas berasal dari garis keturunan yang sangat mulia. Ayahnya adalah Abbas bin Abdul Muthalib, paman dari Nabi Muhammad SAW yang juga merupakan tokoh Quraisy yang dihormati dan bertugas menjaga sumber air Zamzam. Ibunya adalah Lubabah binti Al-Harits, wanita kedua yang memeluk agama Islam setelah Khadijah r.a. Dengan silsilah ini, Ibnu Abbas merupakan sepupu dekat Rasulullah SAW. Meskipun ketika Rasulullah SAW wafat, Ibnu Abbas masih sangat muda usianya kala itu 13 tahun.
Ustadz Imron Rosyadi, S.Ag., menggambarkan Ibnu Abbas sebagai sosok yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman adab yang luar biasa, baik kepada Rasulullah maupun kepada sesama penuntut ilmu. Pasca wafatnya Rasulullah SAW pun semangat Ibnu Abbas dalam mencari ilmu tidak pernah pudar. Ia mengajak kaum Anshar untuk bersama-sama mendatangi para sahabat guna mengumpulkan hadist. Metode pencarian ilmunya pun sangat menginspirasi. Ia rela menunggu di depan pintu rumah para sahabat yang memiliki hadist, bahkan hingga wajahnya tertutup debu karena tiupan angin, demi mendapatkan satu riwayat. Sikap hormatnya kepada pemilik ilmu membuatnya enggan mengetuk pintu dan lebih memilih menunggu sang guru keluar dengan sendirinya.
Berkat kombinasi antara kecerdasan, adab, dan kegigihan tersebut, Ibnu Abbas mendapatkan pengakuan luas dari para ulama dan sahabat lainnya. Bahkan ia dijuluki sebagai "Al-Bahr" atau Lautan Ilmu . Abu Bakar dan Mujahid pun memberikan pujian tinggi. Bahkan, dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa para sahabat yang lain yang pernah berdiskusi dengannya seringkali mengakui kebenaran pendapat Ibnu Abbas .
Ustadz Imron mengatakan kisah Ibnu Abbas menjadi pengingat yang cukup penting bagi para pencari ilmu di masa kini bahwa keberkahan ilmu tidak hanya didapat dari kecerdasan otak, melainkan juga dari kemuliaan adab dan pantang menyerah dalam berproses. Kontribusi Ibnu Abbas tidak hanya berhenti pada teori, tetapi juga kelembagaan. Ia membangun madrasah atau majelis ilmu di Makkah yang kemudian melahirkan ulama-ulama besar dari kalangan tabi'in, di antaranya: Mujahid bin Jabbar al-Makki, Said bin Abu Said, Said bin Jubair bin Hisyam al-Asadi, Atha bin Abi Rabah al-Makki, Amr bin Dinar, dan Said bin Musayyib serta Urwah bin Zubair. Ibnu Abbas wafat di Kota Thaif pada tahun 68 Hijriah dalam usia sekitar 71 tahun. Hingga kini, warisan ilmunya tetap dianggap sebagai cahaya yang menyinari pemahaman umat Islam terhadap agama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....