Budidaya Puyuh di Sleman, Dari Kandang Tradisional menuju Teknologi Modern
- 21 Apr 2026 07:51 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Peternakan burung puyuh atau manuk gemak mungkin masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orang jika dibandingkan dengan komoditas unggas lainnya. Namun, usaha ini ternyata menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa dan menjanjikan panen harian, mematahkan anggapan bahwa beternak unggas kecil sulit untuk dikembangkan dan tidak memiliki pasar yang luas.
Dalam obrolan hangat di acara "Mbangundesa" RRI Pro 4 Yogyakarta minggu 19 April 2026, Pemilik Figaza Farm, Hardi Setya Ramadani, mengungkapkan bahwa kunci utama kesuksesan budidaya burung puyuh terletak pada ketelitian memilih bibit yang berkualitas, menjaga lingkungan kandang, serta kualitas pakan.
Memulai usahanya di Palgading, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman pada tahun 2021, Hardi awalnya fokus pada budidaya lele dan hanya memelihara 500 ekor puyuh sekadar untuk mengambil kotorannya sebagai pakan maggot BSF. Bagi Hardi, indikator keberhasilan peternakannya terlihat ketika ia menyadari bahwa burung puyuh mampu memberikan hasil telur setiap hari, jauh lebih cepat dibandingkan masa panen lele. Kini, usahanya telah bertransformasi pesat hingga memiliki sekitar 25 ribu ekor burung puyuh di kandang pribadinya, belum termasuk kandang-kandang milik mitranya.
"Terus kenapa lari ke puyuh, kok lele ini penghasilannya dua bulan paling cepat, dua sampai tiga bulan paling cepat untuk panennya. Sedangkan puyuhnya kok telurnya tiap hari ya. Akhirnya kita pelajari lagi nih puyuh. Dari 500 ekor tadi, wah kok malah lumayan ini hasilnya," ujar Hardi
Untuk memastikan produktivitas peternakan tetap optimal, Figaza Farm melakukan terobosan dengan tidak lagi bergantung pada pakan pabrik. Pihak pengelola mulai melakukan riset pakan sendiri sejak akhir 2024 dengan menyerap bahan baku dari petani-petani di Kabupaten Sleman, sekaligus membuka jembatan kemitraan dengan masyarakat sekitar. Selain itu, untuk menunjang kesehatan unggas dan mencegah kematian massal (aratan) akibat virus AI atau ND, Hardi secara mandiri mengembangkan bakteri atau mikroba untuk meningkatkan imunitas puyuh peliharaannya. Berbekal latar belakang di bidang IT, ia juga merencanakan transisi dari sistem kandang baterai konvensional ke teknologi closed house yang diadaptasi dari Jepang, sehingga manajemen kandang bisa lebih efisien memungkinkan satu pekerja menangani hingga 15.000 ekor puyuh.
Hardi menekankan bahwa masyarakat sering kali takut dan minder tidak bisa menjual hasil panennya. Padahal, kebutuhan telur puyuh di pasaran sangatlah besar.
"Jangan takut sama pasar telur puyuh, apalagi di Jogja. Prospeknya untuk telur puyuh, saya bilang masih kurang-kurang ya untuk di Jogja," kata Hardi
Keberlanjutan pemasaran produk ternak ini sangat menjanjikan dengan adanya ribuan angkringan di kawasan Sleman yang diestimasikan mampu menyerap hingga 4.848 kilogram telur puyuh per harinya. Ditambah lagi, keahlian pemasaran daring (online) yang dimiliki Hardi telah membuktikan bahwa potensi pasar tidak hanya mencakup wilayah lokal, tetapi mulai menarik minat pembeli dari Malaysia hingga Singapura. Dengan semangat terus berinovasi, Figaza Farm berharap budidaya burung puyuh di Daerah Istimewa Yogyakarta dapat terus melesat naik melalui kolaborasi lokal dan kemajuan teknologi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....