Bencana Ancam Jejak Sejarah Bangsa

  • 19 Apr 2026 10:41 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Ancaman bencana tidak hanya merenggut korban jiwa, tetapi juga menggerus jejak sejarah bangsa. Hal ini mengemuka dalam seminar “Cagar Budaya yang Tangguh Bencana Berkelanjutan” di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, yang menghadirkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat membuka acara menegaskan jika bencana berdampak luas. Tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga berdampak pada sistem kehidupan, termasuk terhadap bangunan-bangunan cagar budaya.

”Cagar budaya bagian dari sistem kehidupan yang rentan terdampak bencana,” katanya. ”Indonesia yang kaya warisan budaya menghadapi ironi, karena berada di kawasan rawan bencana.”

BNPB mencatat, hingga 13 April 2026 telah terjadi 748 kejadian bencana, didominasi banjir dan cuaca ekstrem. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menegaskan, cagar budaya berisiko rusak atau hilang akibat bencana atau perang.

Catatan sejarah menunjukkan dampak nyata. Tsunami Aceh 2004 menghancurkan lebih dari 50 situs budaya. Gempa Yogyakarta 2006 merusak struktur Candi Borobudur dan Prambanan.

Kemudian Banjir dan longsor pada November 2025 merusak puluhan situs di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di Kota Lama Semarang, banjir yang berulang setiap musim hujan terus mengancam bangunan kolonial yang telah berusia lebih dari satu abad.

Menurut Abdul Muhari, cagar budaya tidak hanya perlu dilindungi secara fisik. Tetapi juga dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran kebencanaan.

”Manuskrip kuno dan artefak menyimpan pengetahuan historis,” ucapnya. ”Dan ini sangat penting untuk memahami pola bencana yang pernah terjadi di masa lalu.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....