Kisah Zufa, Menelpon Ibu Tiap Malam dan Lulus S1 Keperawatan UGM dengan IPK Sempurna
- 28 Feb 2026 17:22 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Zufa Pasha Sabina (22) mencatatkan prestasi istimewa dalam Wisuda Program Sarjana Universitas Gadjah Mada, Rabu, 25 Februari 2026, di Grha Sabha Pramana. Ia menjadi satu-satunya dari 1.201 lulusan S1 yang meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00. Lulusan Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) ini juga menuntaskan studinya lebih cepat, yakni sekitar 3 tahun 6 bulan.
Capaian tersebut terasa semakin menonjol karena rata-rata masa studi sarjana mencapai 4 tahun 2 bulan dengan IPK rata-rata 3,53. Zufa mengaku bahagia sekaligus tak menyangka menjadi satu-satunya peraih IPK sempurna, mengingat padatnya aktivitas akademik di program studinya, mulai dari ujian bulanan, tugas berkelanjutan, hingga kegiatan nonakademik.
“Sempat ada magang di luar. Nah, awalnya pun agak pesimis untuk mendapat nilai segitu, tetapi seiring berjalannya waktu ternyata bisa juga,” ucapnya, Kamis, 26 Februari 2026.
Berasal dari Kebumen, Zufa menapaki perjalanan akademiknya dengan tekad berkiprah di dunia medika. Ia menilai ilmu keperawatan memiliki peran besar di tengah masyarakat karena sifatnya yang terus berkembang dan relevan sepanjang waktu. Saat ini, Zufa melanjutkan pendidikan ke program profesi ners yang akan ditempuh sekitar satu tahun ke depan.
Tugas akhir yang digarapnya pun berorientasi pada edukasi kesehatan, yakni penyusunan video berjudul “Pengembangan Media Edukasi Video Preeklampsia Pada Ibu Hamil.” Selain itu, ia juga memperkaya pengalaman praktis melalui magang selama tiga bulan di PSC 119 YES (Public Safety Center 119 Yogyakarta Emergency Services).
“Jadi aku benar-benar terjun ke lapangan di prehospital. Banyak banget pelajaran yang dapat diambil di situ tentang kedaruratan,” ucapnya.
Di balik kesibukan akademik yang menguras energi, Zufa mengaku kekuatan terbesarnya datang dari keluarga dan sahabat. Ia memiliki kebiasaan sederhana namun bermakna: menelpon sang ibu setiap malam.
Dari percakapan itulah, ia selalu mendapatkan dorongan dan nasihat yang menumbuhkan semangat baru. “Pokoknya setiap malam saya selalu menelpon ibu, senang rasanya kalau sudah mendengar suaranya,” katanya.
Soal strategi belajar, Zufa menegaskan ia tidak pernah membidik nilai sempurna sejak awal. Ia memilih membaca pola perkuliahan seiring waktu dan menyesuaikan langkahnya. “Awalnya tidak ada target tertentu, tapi ketika sudah di pertengahan, kelihatan polanya. Yang penting nilainya tidak turun dan bisa tetap stabil,” ujarnya.
Ia pun mengakui rasa malas sesekali datang. Namun, kemampuan memilah prioritas—menentukan mana yang harus segera diselesaikan dan mana yang bisa ditunda—menjadi cara untuk tetap bergerak. Manajemen waktu, menurutnya, adalah kunci agar tidak kewalahan.
Meski begitu, Zufa tetap menjaga keseimbangan antara belajar dan istirahat dengan menerapkan pola belajar bertahap, mengingat ujian datang hampir setiap bulan.
“Minimal sehari baca satu atau dua halaman saja itu sudah progres,” ujarnya.
Bagi Zufa, konsistensi adalah pembeda utama. Usaha kecil yang dilakukan terus-menerus akan berbuah hasil jangka panjang. “Do your best you can, lakukan semaksimal mungkin, lakukan yang terbaik karena pasti ada ruang untuk berjuang maksimal,” ucapnya.
Di akhir, ia mengingatkan bahwa nilai akademik hanyalah angka yang merekam proses dan kerja keras, bukan tujuan akhir. “Nilai itu bisa menunjukkan prosesmu, tetapi jangan sampai membuatmu lupa untuk tetap rendah hati, membumi, dan tidak sombong,” ujarnya.
Menyoal tentang strategi belajarnya, ia menyatakan tidak memasang target nilai sempurna, tetapi menganalisis pola akademik seiring berjalannya semester. Dari sana ia belajar menyesuaikan ekspektasi dan arah perjuangan.
“Awalnya tidak ada target tertentu, tapi ketika sudah di pertengahan, kelihatan polanya. Yang penting nilainya tidak turun dan bisa tetap stabil,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa terkadang masih melewati rasa malas. Baginya, hal ini dapat ditanggapi dengan kemampuannya memilah prioritas, menentukan tugas yang perlu disegerakan atau dapat ditunda kemudian.
Zufa menilai manajemen waktu sebagai kunci utama. Ia mengingatkan bahwa tanpa pengaturan waktu yang baik, seseorang akan kesulitan menentukan prioritas dan rentan merasa kewalahan.
Meski demikian, ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara belajar dan waktu beristirahat. Sebagai gantinya, ia lebih memilih pola belajar mencicil karena ujian datang hampir setiap bulan agar beban belajar tidak menumpuk di akhir.
“Minimal sehari baca satu atau dua halaman saja itu sudah progres,” ujarnya.
Menurutnya, selalu ada ruang untuk berusaha lebih sungguh-sungguh, dan upaya itulah yang kerap menjadi pembeda antara satu orang dengan yang lain. Ia percaya bahwa konsistensi, sekecil apapun bentuknya, akan berbuah pada hasil jangka panjang.
“Do your best you can, lakukan semaksimal mungkin, lakukan yang terbaik karena pasti ada ruang untuk berjuang maksimal,” ucapnya.
Zufa juga mengingatkan bahwa nilai akademik pada akhirnya hanyalah angka, sebuah representasi dari proses, kerja keras, dan usaha yang telah dijalani. “Nilai itu bisa menunjukkan prosesmu, tetapi jangan sampai membuatmu lupa untuk tetap rendah hati, membumi, dan tidak sombong,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....