Ada Dua Blok Sesar Opak di Yogyakarta, Begini Dinamikanya

  • 25 Feb 2026 23:47 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID., Yogyakarta - Pagi itu, 27 Mei 2006, langit Yogyakarta tampak biasa saja, sebelum bumi tiba-tiba berguncang dahsyat dan mengubah segalanya dalam hitungan detik. Gempa yang berkekuatan 6,3 magnitudo yang berpusat di daratan Bantul itu, bukan hanya meruntuhkan bangunan, tapi juga mengguncang batin ribuan keluarga.

Tercatat sekitar 6.000 orang meninggal dunia akibat tertimpa bangunan roboh, dan sekitar 3.000 orang mengalami cacat seumur hidup. Dua puluh tahun berlalu, tapi ingatan tentang tragedi itu tetap hidup. Namun, sekaligus menjadi pengingat tentang ketangguhan dan semangat bangkit warga Jogja yang tak pernah benar-benar runtuh.

Di balik peristiwa itu ada satu patahan aktif yang kerap disebut oleh para ahli sebagai Sesar Opak. Secara gelologi, sesar tersebut masih aktif dan dapat memicu gempa dangkal yang terasa kuat di wilayah DIY dan sekitarnya.

Lalu, apakah itu Sesar Opak? Sesar Opak, menurut BMKG adalah struktur patahan aktif sepanjang kurang lebih 45 kilometer yang membentang di daratan Daerah Istimewa Yogyakarta, mengikuti aliran Sungai Opak dari Lereng Merapi ke Pantai Parangtritis.

Seperti yang diinformasikan melalui akun instagram resmi BPBD DIY di @bpbd_diy, jalur lintasan Sesar Opak ini cukup panjang membentang, mulai dari Prangtritis, Kecamatan Kretek, Kecamatan Pundong, Kecamatan Jetis, Kecamatan Imogiri, Kecamatan Pleret, Kecamatan Piyungan, Kecamatan Berbah, Kecamatan Kalasan, dan berakhir di Prambanan Kabupaten Klaten.

Dua blok sesar

Sesar Opak ini termasuk jenis sesar geser atau strike slip fault. Sesar ini akan bergejolak apabila pertemuan sesar tersebut bergerak bergesekan. Pergerakan sesar relatif mendatar pada bidang yang tegak atau 90 derajat.

Dijelaskan dalam unggahan di akun @bpbd_diy bahwa terdapat dua blok pada Sesar Opak, di mana pergerakan sesar pada blok timur relatif bergeser ke utara dan blok barat bergeser ke selatan dengan lebar dari zona sesar ini diperkirakan sekitar 2,5 km (Nurwidyanto, 2011). Pergerakan sesar-sesar tersebut dipengaruhi oleh subduksi Lempeng Australia ke bawah Lempeng Eurasia di bawah Pulau Jawa (Abidin, 2009).

Pada 27 Januari 2026 lalu telah terjadi gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 4,4 SR mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta tepat pukul 13:15:32 WIB, dengan episenter berada pada koordinat 7,87 derajat Lintang Selatan dan 110,49 derajat Bujur Timur atau sekitar 15 kilometer timur laut Bantul pada kedalaman 11 kilometer sehingga tergolong gempa dangkal.

Dampak kejadian terasa di tiga kabupaten yaitu Kabupaten Gunungkidul terdapat 11 titik, Kabupaten Bantul terdapat 2 titik dan Kabupaten Sleman ada 1 titik. Dari jumlah tersebut terdapat 11 rumah warga rusak, 1 mushola rusak, 1 balai padukuhan rusak dan 1 fasilitas pemerintahan rusak.

Berada di kawasan yang dilintasi oleh Sesar Opak bukanlah pilihan,melainkan realitas geografis yang harus dipahami bersama. Mau tidak mau, warga Yogyakarta harus siap menghadapi beberapa kemungkinan yang masih akan ditimbulkan akibat aktivitas geologi Sesar Opak. Hingga saat ini, gempa bumi belum dapat diprediksi secara tepat waktu dan lokasi. Oleh karena itu, kesiapsiagaan masyarakat menjadi langkah utama dalam mengurangi resiko dampak.

Apa yang harus dilakukan saat terjadi gempa? BPBD DIY, dalam unggahannya, mengingatkan masyarakat untuk tetap tenang dan lakukan langkah perlindungan diri seperti menunduk, berlindung di bawah meja, menjauhi kaca dan benda berat yang ebrpotensi jatuh.

Selain itu, warga juga dihimbau untuk selalu memperoleh informasi dari sumber resmi seperti BMKG dan BPBD untuk menghindari hoaks serta perkembangan situasi terkini. Ingat, kesiapsiagaan adalah kunci untuk mengurangi resiko dan menjaga keselamatan bersama.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....