Kain Tenun Lurik Kurnia, Pertahankan Tradisi di Tengah Modernisasi
- 20 Jul 2026 14:09 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Di tengah perkembangan industri tekstil modern, Tenun Lurik Kurnia di Krapyak Wetan, Panggungharjo, Sewon, Kabupaten Bantul, masih mempertahankan proses produksi menggunakan alat tenun tradisional atau juga disebut alat tenun bukan mesin (ATBM). Usaha ini dirintis oleh Dibyo Sumarto pada 1962.
Berawal dari industri rumahan yang hanya melibatkan anggota keluarga, usaha tersebut berkembang seiring meningkatnya permintaan hingga mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Kini, estafet usaha diteruskan oleh anak dan cucu Dibyo. Salah satunya adalah Sulis, anak keenam Dibyo, yang masih menjaga keberlangsungan usaha keluarga.
"Awalnya Pak Dibyo merintis usaha di sini, tapi masih kecil, cuma sama teman-temannya. Lama-kelamaan karena banyak yang laku, usahanya bisa berkembang," ujar Sulis saat ditemui di Tenun Lurik Kurnia.
Hingga kini, seluruh proses produksi masih dikerjakan secara tradisional menggunakan ATBM. Proses tersebut membutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi. Untuk menghasilkan satu gulung kain lurik sepanjang sekitar 30 meter, para penenun memerlukan waktu sekitar satu minggu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....